PDA

View Full Version : [Cerita : Romance] ~ Liku-Liku Cinta Pemain Sepak Bola



-0_bRoWniEs_0-
01-01-2011, 09:21 PM
http://forum.travian.co.id/picture.php?albumid=1108&pictureid=4215

http://forum.travian.co.id/picture.php?albumid=1108&pictureid=4213

http://forum.travian.co.id/picture.php?albumid=1108&pictureid=4214


*DAFTAR ISI*
(Sesuai dengan Document Word)



-SINOPSIS- >> View (http://forum.travian.co.id/showthread.php?p=939128&posted=1#post939128) <<
Page 1 >> View (http://forum.travian.co.id/showthread.php?p=939661#post939661) <<
Page 2 >> View (http://forum.travian.co.id/showthread.php?p=940192#post940192) <<
Page 3 >> View (http://forum.travian.co.id/showthread.php?p=943881&posted=1#post943881) <<
Page 4 >> View (http://forum.travian.co.id/showthread.php?p=944067&posted=1#post944067)<<
Page 5 >> View <<

To Be Continue...

-0_bRoWniEs_0-
01-01-2011, 09:26 PM
SINOPSIS

Carrasco Pemain Sepak Bola Amatiran yang Frustasi karena Timnya Bubar dan berniat untuk berhenti bermain sepak bola. Namun, disaat-saat sudah mantap keinginannya berhenti bermain sepak bola, ia bertemu dengan Rainie yang pada saat itu adalah Agen baru di perusahaannya. Rainie berusaha membujuk Carrasco sehingga Carrasco mau bermain sepak bola lagi.
Rainie ingin Pemainnya itu bisa bergabung dengan FC Barcelona, dan memalui Usahanya, Carrasco pun bisa bergabung dengan FC Barcelona. Carrasco sangat terpesona dengan fasilitas yang diberikan oleh FC Barcelona.


Awal Carrasco bergabung sugguh memalukan dan banyak yang menghinanya, hal ini dikarenakan Kecerobohan demi Kecerobohan yang ia lakukan saat berlatih. Namun, hari demi hari Permainan Carrasco mengalami Kemajuan yang membuat Pelatih Cesar mengakui bakatnya.
Seiring Berjalannya Waktu, Carrasco merasa Jatuh cinta Pada Agennya, Namun dia masih tidak berani mengakui bahwa dia menyukai Agennya itu. Ia pun merasa bahwa ia bukan lah tipe laki-laki yang disukai Rainie.

Sewaktu Hendak Pergi mengantar adiknya kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, ia bertemu dengan Rainie yang sedang bersama seorang pria dengan dandanan rapi, Carrasco beranggapan bahwa itu adalah pasangan agennya.


Julio, Pengacara terkenal namun banyak yang membencinya. Pada Suatu hari ada seseorang yang tidak menyukai Julio dan membawa kabur Rainie yang dianggapnya kekasih Julio. Rainie memberontak sehingga mobilnya menabrak pembatas jalan dimana dibawahnya adalah sungai yang luas. Mulut mobil sudah melewati Jalan, Si Penjahat itu Buru-buru keluar dari mobil sebelum mobil terjatuh. Rainie yang panic hanya berusaha menjaga Keseimbangan.

Tiba-tiba Carrasco datang dan menahan sisi belakang Mobil Rainie, sesegera mungkin ia menyuruh Rainie keluar melalui pintu belakang. Lega melihat Rainie Selamat, Carrasco lupa bahwa dia sedang menaiki Bagian bagian belakang mobil yang hampir terjatuh ke Sungai. Dalam Hitungan detik saja, mobil terjatuh bersama Carrasco. Dengan Panik Rainie menghubungi Tim SAR untuk menyelamatkan Carrasco.


Terlambat, Carrasco ditemukan dalam keadaan Kritis dan Nafasnya Sangat lemah. Akibat kekurangan Oksigen itu ada beberapa Syarafnya yang terganggu sehingga ia mengalami Amnesia Sementara.
Hari-hari buruknya dimulai, tanpa mengetahui siapa dia dan saat itu hanya ada Rainie Agennya. Dengan Perasaan bersalah Rainie terus merawat dan menjaga Carrasco, hal itu menimbulkan kecemburuan pada Julio. Julio berusaha menyingkirkan Carrasco dari Rainie.

Julio Menghubingi Pihak Rumah Sakit Jiwa abadi yang berada di Desa terpencil dan mengirim Carrasco ketempat tersebut tanpa sepengetahuan siapa-siapa. Disanalah Carrasco bertemu dengan Nona Harrera, seorang nenek yang punya penyakit pikun.


Rintangan demi rintangan dilewatinya, ingatannya kembali pulih. Carrasco berusaha kabur dari Rumah sakit itu tetapi tidak bisa, ia pasrah pada keadaan dan akhirnya ia bertemu dengan Agennya saat terjadi kebakaran di Rumah Sakit Jiwa.

Kembali ke Barcelona dengan Carrasco yang sebenarnya dan siap untuk Menajadi Pemain Sepak Bola Liga Spanyol.


Dengan Semangat yang diberikan oleh Agennya, ia kembali bermain sepak bola. Dominique merasa tersaingi dengan bakat baru Carrasco. Permainannya Menurun derastis dan setelah diselidiki ia cemburu dengan kedekatan Si ahli Nutrisi dengan Carrasco. Jarang Sekali Dominique meyukai seorang gadis oleh sebab itu dia tidak mau melepaskan Serra, ternyata kurangnya pengendalian emosinya itu berpengaruh pada Permainannya sehingga ia mendapat teguran dari Pelatih Cesar.
Minggu depan akan diadakan pertandingan Persahabatan antara FC Barcelona Dengan Tim Remaja. Pelatih Cesar Membacakan pemain yang ikut dalam pertandingan tersebut. Diantaranya adalah Carrasco, itu membuat Dominique semakin merasa iri hati. Saat Latihan Pun ia enggan memberikan Bola Kepada Carrasco.

Rainie tak henti-hentinya memberikan dukungan kepada pemainnya itu karena bagi Rainie pertandingan itu sangat berarti bagi Pemainnya. Jika Carrasco mampu membuktikan bakatnya dan mencetak Gol maka orang akan selalu mengingatnya dan Rainie pun dapat membuktikan kepada Direktur Rard bahwa Carrasco adalah pemain Berbakat.


Demi Adiknya Iniesta, Carrasco ingin mencetak banyak Gol pada pertandingan tersebut. Adiknya adalah Seorang Gadis Kecil yang lemah. Ia Menderita Penyakit Jantung, itu sebabnya Carrasco berusaha membahagiakan Adiknya itu. Meski iniesta bukan adik Kandungnya, ia sangat menyayangi Iniesta dan Ibu Sevilla.

Goall…… Sebuah Sorak Sorai yang didambakan banyak pihak terjadi, Carrasco mencetak 1 goal. Dengan Percaya Diri yang tinggi, Carrasco selalu memanfaatkan kesempatan yang ada dengan baik. Goall…. Ya.. Goal Kedua yang di buat Oleh Carrasco sekaligus akhir dari Pertandingan itu.
Dengan Senangnya, Carrasco menarik tangan Rainie dan membawanya ke lapangan berumput itu dan mengangkat Rainie. Menunjukkan Pada Semua orang betapa bahagianya ia memiliki agen seperti Rainie sekaligus menyatakan cintanya pada Rainie. Hal ini membuat Serra dan Julio terbakar api cemburu. Dengan perasaan berat keduanya merelakan Carrasco dan Rainie. Disisi lain Dominique benar-benar senang karena ia punya kesempatan untuk mendapatkan hati Serra.


Carrasco yang resmi berpacaran dengan Agennya itu, Kini benar-benar bahagia. Semua serasa Lengkap Penghargaan atas Prestasi bermainnya telah ia capai dan seorang gadis yang ia Sayang telah berada disisinya dan selalu mendukungnya.

Semenjak saat itu, Carrasco diminta untuk bermain dan bekerjasama dengan MU. Walau awalnya Berat meninggalkan Rainie di Barcelona Sendiri, ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi namun, ia tetap pergi karena ternyata Rainie bersedia ikut pergi mendampinginya.

RandoM-
01-02-2011, 04:15 AM
errrrrrr... >.<

jujur nggak gitu ngerti sih sama ceritanya, habis baca juga bingung mau koment tentang apa... =3

hmm, masih harus spread-spread juga...

yaudah bantu dinaikin ke atas aja deh threadnya kak Chelly... >.<

ritsukacute
01-02-2011, 04:20 AM
dtunggu kelanjutannya
:):):):)

-0_bRoWniEs_0-
01-02-2011, 10:33 AM
PAGE 1



“Heii Serra…” Panggil Carrasco pada Serra.
“Apa !?” Jawab Serra.
“Aku akan berhenti bermain Sepak Bola, Apa kau ada Pekerjaan untukku?”
“Apa kau yakin Rasco ? Kau kan bermain sepak bola Sejak Usiamu 16 tahun. Mana mungkin bisa kau berhenti begitu saja ?” Tanya Serra.

Berdiam Diri sejenak, tanpa mempedulikan pertanyaan yang diajukan oleh Serra. Tampaknya masih ada yang mengganggu pikiran Rasco. Serra masih menunggu-nunggu jawaban dari sahabatnya itu. Tidak berapa lama Rasco membuka mulutnya.


“Apa kau ada pekerjaan untukku?” tanyanya.
“Kau ini, Pertanyaanku belum kau Jawab, ya sudah besok Berpakaianlah yang Rapi dan datang Keperusahaan Ini.” (sambil menunjukkan Kartu nama Seorang Direktur suatu Perusahaan).


Usai pembicaraan Mereka, Serra segera pergi ketempat bekerjanya dan Rasco Pekembali kerumahnya. Ditengah Perjalanan Serra Bertemu dengan Dominique. Karena tempat bekerja mereka sama hanya saja Serra sebagai ahli nutrisi dan Dominique sebagai Pemain Sepak Bola maka mereka memutuskan untuk pergi bersama. Sesampainya ditempat itu, Merekan kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa.


“eh.. Serr,, Menu Makan Siang hari ini apa?” Tanya Dominique.
“Soup dan Daging, Daging baik untuk meningkatkan Staminamu.”
“Berikan yang terbaik untukku.” Pinta Dominique.
“Tentu.”

Serra segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makan Siang Pemain FC Barcelona. Selagi Asik Menyiapkan makanan, tanpa sadar Dominique sudah ada dibelakangnya dan memandanginya sedari tadi.


“Butuh Bantuan?”. Tawarnya.
“Oh tidak, Sejak kapan kau berdiri disana?” Tanya Serra sambil terkejut.
“Memang Aku perlu izin jika ingin melihatmu?”
“Tidak, Pergilah makan.. Kau butuh Energi Banyak untuk Berlatih nanti.”


Dominique Pergi dengan meninggalkan Senyum manisnya, membuat Serra benar-benar terbuai sehingga ia melamun cukup lama sambil memandangi langkah demi langkah Dominique pergi dari tempatnya berdiri. Tak Berapa lama Rekannya menepuk Pundaknya, Sontak membuat Serra Terkejut.


“Sepertinya Domi Menyukaimu.” Ungkapnya.
“Heii Bicara apa kau ini, mana mungkin dia menyukaiku, memangnya apa yang dia sukai dariku?”
“Serra, terkadang orang mempunyai tipe idaman sendiri dan mungkin kau termasuk didalamnya dan ku lihat-lihat dia sering memandangimu sewaktu kau membuat makanan.” Jelasnya.
“Ah .. kau ini bisa saja Mau sampai kapan kita berdiri disini, Masih. banyak Pekerjaan yang menunggu kita.”

Sudah saatnya Serra pulang, ia hanya bekerja sampai pukul 18.00. Sedang Asyiknya merapikan dapur, ia dikejutkan lagi dengan kehadiran Dominique dibelakangnya.


“Akh, kau… mengagetkan saja.”
“Biasakan Untuk tidak terkejut saat aku dibelakangmu. Waktunya pulang ya? Mau ku antarkan?.”
“Oh Tidak Tidak, Aku bisa pulang Sendiri. Kau Istirahatlah, Seharian ini kan kau berlatih keras.”

Dominique seperti tidak ingin melepaskan Serra, ia mengantarkan Serra sampai pagar Asrama. Di Pagar itulah Hari Baik mereka telah berakhir. Mereka baru akan bertemu esok pagi.

To be Continue...

-0_bRoWniEs_0-
01-02-2011, 09:08 PM
PAGE 2


Keesokan harinya, Carrasco dengan Pakaian Rapinya Siap untuk diwawancarai. Di dalam Bus ia melihat seorang anak laki-laki sedang bermain dengan bolanya. Ia teringat akan masa kecilnya. Betapa Berartinya sepak bola itu. Perasaan bimbang mulai menyelimutinya. Seketika itu juga ia berjumpa dengan Seorang wanita sebayanya dan pada saat itu Hujan turun begitu derasanya. Rainie, nama wanita itu. Pagi itu begitu malang baginya, ditengah-tengah hujan deras, hak sepatunya putus dan membuat ia terpaksa bertelanjang kaki.


Carrasco yang melihat hal tersebut, mulai mencemaskan wanita itu sehingga ia meminjam kan sepatunya agar bisa dipakai oleh wanita itu. Perkenalan singkat pun terjadi diantara mereka. Hujan mulai redah, Carrasco pergi begitu saja dan Rainie segera menghubungi temannya, Julio.
Tak lama kemudian Julio tiba ditempatnya berteduh. Baru kali ini Julio bertemu dengan Rainie dalam keadaan berantakan seperti ini. Tetapi, dengan ini Julio tau bahwa Wanita yang dijodohkan dengannya memang lah benar cantik dalam keadaan apapun, dengan dibalut cosmetic dan aksesoris yang serba mahal dan indah ataupun dengan baju basah, rambut berantakan serta tanpa dibalut aksesoris mahal nan indah.

Mereka memutuskan berhenti di café untuk mengisi Perut dan menghangatkan tubuh mereka. Setelah terdiam Cukup lama sambil masing-masing sibuk meneguk Hot Coffe alias Kopi hangat, akhirnya Julio mengawali pembicaraan.



“Darimana saja kau tadi?” Tanya Julio
“Hah ? aku ? tadi aku sedang mencari informasi tentang pemain Sepak bola yang nanti akan ku usahakan masuk ke Liga Spanyol.”
“FC Barcelona ?”
“Ya, Direkturku ingin menguji potensiku, karena merupakan hal yang memalukan seorang wanita menjadi agen Sepak bola. Aku akan cari pemain berbakat untuk membuktikan bahwa tidaklah salah seorang wanita menjadi Agen Sepak Bola.”
“Memang Siapa pemain yang sedang kau kejar?”
“Carrasco Fernandez.”
“Dia Hanya Pemain Amatiran, Tapi aku percaya dia punya bakat. Besok aku akan mulai menawarinya berkerjasama denganku.”
“Ya tapi Jaga Kesehatanmu, jangan Korbankan semua untuk pekerjaanmu, Lagi pula kalau kita menikah kau tak harus mencari uang.”
“Hah? Oh.. Jika sudah, bisakah kau antar aku pulang?”
“Baiklah Kita pulang sekarang. Nampaknya kau kelelahan.”

Setelah membayar Hidangan yang mereka Santap, Mereka segera meninggalkan café itu dan Julio segera mengantakan Rainie pulang. Dalam Perjalanan Pulang mereka hanya terdiam tanpa ada pembicaraan sediktpun. Julio mengira Rainie benar-benar kelelahan sehingga ia membiarkan Suasana Mobil menjadi sunyi. Hanya Bunyi Gas yang halus Terdengar.


Sampailah Mereka di halaman rumah Rainie. Julio Turun dan sesegera mungkin membukakan pintu Mobil agar Rainie bisa segera beristirahat.



“Terima Kasih, Kau Benar-Benar malaikatku.” Ucap Rainie.
“Sudah menjadi tanggung Jawabku menjaga Nona Rainie. Segera masuk Rumah dan istirahatlah. Aku akan menunggumu disini sampai kau masuk rumah.”

Berpisahlah mereka, Setelah Rainie masuk dan Menutup Pintu rumahnya, Julio Segera masuk Mobil, Memutar Mobilnya dan meninggalkan Pekarangan Rainie untuk menempuh Perjalanan yang cukup memakan waktu menuju Rumahnya.

dane
01-05-2011, 02:16 PM
itu post pembuka thread gambarnya print screen excel / word buatan sendiri yah ???
disarankan ubah dulu ke bahasa Indonesia teksnya, soalnya kalo gak diubah hasilnya yah kayak gitu
ada garis bawah warna merahnya, gak enak liatnya itu

thE Gre@tZ cUgIL
01-05-2011, 02:27 PM
@TS
w pengen nanya nih.
di tokoh pembantu no.5 kan karateristiknya :
Angkuh
Menyebalkan
tapi baik hati, gimana ceritanya tuh ??

Keira
01-05-2011, 02:51 PM
banyak cerita karangan member disini..
saya tertarik jadinya

-0_bRoWniEs_0-
01-06-2011, 08:54 PM
itu post pembuka thread gambarnya print screen excel / word buatan sendiri yah ???
disarankan ubah dulu ke bahasa Indonesia teksnya, soalnya kalo gak diubah hasilnya yah kayak gitu
ada garis bawah warna merahnya, gak enak liatnya itu

bentar bentar.. bagian yang ini yang kurang paham maksdnya.. hihihi

-0_bRoWniEs_0-
01-06-2011, 09:21 PM
PAGE 3



“Hoammzz… Hari yang cerah, aku kan dapatkan pemain amatiran itu. Carrasco, Kau akan menjadi pemainku,, Semangat Rainie.. Semangat.” Ucap Rainie menyambut pagi yang Sejuk.
Bangun tidur, Merapikan tempat tidur, Menggosok Gigi dan Mandi. Rutinitas seperti biasa yang sudah bertahun-tahun ia jalani. Semangatnya benar-benar membuat serasa tidak percaya diri. Rainie selalu berfikiran Positif dalam menjalani Hidupnya, maka tak jarang ia selalu melakukan suatu hal tanpa memikirkan dampak buruknya.


Dengan berpakaian Rapi serta tidak lupa mengenakan Sepatu Hak Tingginya untuk menunjukkan betapa Feminine nya dia. Oh astaga hampir terlupakan, Sebuah tas berisikan berkas-berkas mengenai Carrasco Fernandez.
Setelah Sarapan, Ia buru-buru mengeluarkan Mobilnya dan membawanya melewati Jalan La Rambla, Sebuah Jalan Terkenal Di Spanyol bahkan Eropa.



http://forum.travian.co.id/picture.php?albumid=1108&pictureid=4245

(La Rambla Street)

La Rambla adalah jalan yang digunakan Untuk Pejalan Kaki. Bisa Dilihat Bahwa Jalan Untuk Pejalankaki Luasnya 3x dari jalan untuk Kendaraan. Sambil menghirup Udara segar pagi hari, Rainie memarkirkan Mobilnya disisi jalan yang sekranya tidak menganggu dan melanjutkan pencariannya dengan berjalan kaki.


Sekitar 30 menit mengelilingi jalan itu, akhirnya Rainie menemukan Rumah yang sedang ia cari. Cukup lama mengetuk dan membunyikan bel, Tidak ada yang keluar, ia mulai gelisah, tapi ternyata ia bertemu dengan gadis kecil yang berusia sekitar 8th. Gadis kecil itu ternyata adik dari Carrasco Fernandez. Rainie segera memberitahukan Keperntingannya mencari kakak dari gadis kecil itu.



“Hai anak manis, apa kau adik Carrasco?” Tanya nya dengan lembut.
“Ya, Carrasco adalah kakakku, ada perlu apa kau mencari kakakku.”
“Maaf bolehkah aku tau siapa namamu adik manis?”
“Iniesta Liorente, kau cukup memanggilku dengan nama Ines. Apa keperluanmu dengan kakakku?”
“Oh iya, ini kartu namaku, aku bekerja sebagai Agen Sepak Bola, dan aku ingin kakakmu dapat bergabung dengan FC Barcelona.”
“Apa? Kau berjanji akan membuat kakakku menjadi pemain sepak bola terkenal?”
“Ya, aku akan membuat kakakmu menjadi pemain sepak bola terkenal jika dia mempunyai bakat.”
“Tentu, Kakakku adalah pemain hebat. Dia pasti bisa masuk club itu.”

Mengakhiri pembicaraan dengan adik Carrasco dan Rainie kembali ke tempatnya bekerja ia berniat akan kembali lagi besok kerumah itu. Sesampainya di tempat kerja, Rainie di tegur oleh direkturnya yaitu, Direktur Gerard.



“Dari mana saja kau? Jam segini baru datang. Seharusnya aku tidak menerimamu bekerja disini. Wanita memang tidak berbakat menjadi Agen Sepak bola.” Celetuknya.
“Paman, kau ini.. aku kan telat karena aku sedang mencari rumah pemainku.” Jelas Rainie.
“Siapa yang mengijinkan mu memanggilku Paman? Aku bukan Pamanmu. Tunggu-Tunggu, tadi kau bilang Pemainmu? Memang siapa yang akan kau Jadikan Pemainmu? Pemain Berbakat dari Club apa dan Siapa namanya?.”
“Paman, tanyalah satu per satu. Mana yang harus ku jawab terlebih dahulu.”
“Akh sudah jawab Saja pertanyaan ku yang kau ingat.”
“Hmm,, ya ,, Namanya Carrasco.”
“Carrasco ?” Tanyanya dengan penasaran.
“He’emb Carrasco Fernandez.”
“Aku belum pernah mendengar nama itu.”
“Ya, dia bukan pemain terkenal. Hanya pemain amatiran tapi dia punya bakat.” Terang Rainie.
“Heeh, mana ada pemain amatir yang mempunyai Bakat.” Ucapnya dengan sinis.
“Paman, aku akan buktikan bahwa aku bisa menjadikannya pemainku dan menjadikannya pemain terkenal dengan bakat yang ia miliki.”
“Buktikan saja. Dalam waktu 1 minggu ini kau harus sudah bisa mengikat Kontrak dengannya. Kalau tidak akan ku pecat kau dari tempat ini.” Ancamnya pada Rainie.

Jam menunjukkan Pukul 18.00. Rainie mengemasi barangnya karena ia harus pergi cepat-cepat dari kantornya dan segera menemui Julio yang sudah menunggu di Café biasa tempat mereka bertemu. Dalam Perjalanan menuju café, ia bertemu dengan Carrasco dan Rainie menghentikan Mobilnya tepat di depan Carrasco Sehingga membuat Carrasco Kesal dan Terkejut.

Ciittt…zz…



“Astaga, Mobil Siapa ini? Seenaknya saja berhenti Didepanku.”
“Heii Keluarlah.” Teriak Carrasco.
“e..e.. Maafkan aku, aku tak bermaksud melukaimu. Kau Carrasco bukan?”
“Ya, Aku Carrasco. Darimana kau mengenalku?” Tanya nya Heran.
“Ikut aku ke bangku yang ada disana. Aku ingin bicara sesuatu denganmu.” Ajaknya.
“Heii, kau ini siapa? Dan apa mau mu? Berani sekali kau menarik tanganku.”

Karena melihat Carrasco sedang kesal, tanpa berkata banyak Rainie menyodorkan Kartu Namanya dengan Harapan Carrasco mengerti apa maksudnya. Tapi dia salah, Carrasco benar-benar pria bodoh.



“Untuk apa kau beri ini kepadaku?” tanya Carrasco.
“Dasar Bodoh, Aku Seorang Agen Sepak Bola dan aku ingin kau Menjadi Pemainku.” Jelasnya.
“Kau ? Agen Sepak Bola? Hahaha.” Carrasco menertawakan Rainie.
“Hoh.. Kau pasti ingin menghinaku. Memang salah seorang wanita menjadi agen sepak bola?”
“Siapa yang Menghinamu? Aku hanya menertawakanmu.” ucap Carrasco.
“Sama Saja. Sekarang bagaimana? Apa Sekarang kau mau mengikat Kontrak denganku?” tanya Rainie.
“Tidak, aku tidak bermain sepak bola lagi. Sudah aku mau pulang. Adikku menungguku dirumah. Dia pasti Cemas jika aku pulang telat tanpa mengabari.”


Tanpa mempedulikan Rainie, Carrasco segera melangkahkan kakinya menjauhi tempat itu. Masih dengan Keadaan Heran, Rainie memandangi Carrasco sampai bayangannya pun hilang Tersapu oleh angin yang bertiup Kencang malam itu. Rainie mengangkat tangannya dan melihat Arloji yang melingkar di pergelangannya. Rainie terkejut setengah mati karena Arlojinya sudah menunjukkan pukul 19.30. Ia teringat akan janjinya pada Julio. Rainie berlari menuju Mobilnya dan mengendarai dengan cepat mobilnya agar tidak terlalu lama membuat Julio menunggu. Sesampainya di Café, Ia Menghentikan Mobilnya di Parkiran dan Masuk dengan tergesah-gesah. Disana Sudah ada seorang Pria dengan Jazznya dan Rambut tertata Rapi sedang menunggunya.



“Julio…” panggilnya.
“Ya, nampaknya kau sedang sibuk. Apa aku membuat janji di saat yang tidak tepat?”
“e..e.. tidak. Maaf telah membuatmu menunggu.” Ucapnya dengan merasa bersalah.
“Berapa lama pun aku menunggu asal itu untukmu Kurasa tak ada masalah.”
“Kau ini, Masih saja sempat menggodaku. Apa kau sudah lapar?”
“Aku menyimpan Selera makanku untuk bisa makan dengan Wanita yang kucintai.”
“Kau benar-benar pintar menggodaku, Kau ingin memesan makanan apa?”
“Pesankan makanan untukku. Apapun yang kau pesan, pasti mengenyangkan perutku.”
“Baiklah..”
“Camarera.” (dalam bahasa Indonesia berarti Pelayan).
“Ada yang bisa kami bantu?” tanya seorang pelayan wanita.
“Aku ingin memesan 2 Duck Breast With Nut Sauce dan 2 gelas Sangria.”
“Baik, 20 menit lagi akan kami hidangkan.”

Pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka. Sambil menunggu makanan yang mereka pesan, mereka berbincang-bincang diiringi canda tawa.Kurang dari 20 menit, makanan yang mereka pesan sudah dihidangkan. Sebelum memulai makan malam, mereka tak lupa memanjatkan puji syukur pada sang pencipta. Setelah itu mereka menyantap makanan mereka hingga habis dan hanya menyisakan Piring, Garpu dan Pisau. Sehabis makan dan membersihkan sisa-sisa makanan di mulut, mereka segera pulang.

Hari yang melelahkan telah terlewati. Bulan telah hadir menerangi malam yang gelap dan bintang-bintang pun turut serta menghiasi langit-langit dengan cahayanya. Semua sangat indah dilihat dari Jendela kamar Rainie. Ia pun menuju Toilet untuk mencuci kaki dan tangannya serta menggosok giginya. Dengan menggunakan Piyama, Rainie berjalan menuju Jendela kamarnya dan membuka sedikit Gordennya agar Cahaya Bulan dan bintang menemani tidurnya. Sembari membuka Gorden dan menutup Jendela kamarnya, ia berjalan langkah demi langkah menuju Ranjangnya yang empuk dan melepaskan semua rasa pegal yang ia rasakan hari ini.



“Aku percaya, hari esok akan jauh lebih baik dari hari ini. Jagalah aku dalam tidurku dan biarkan aku terbangun esok untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”

Rainie memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya. Cahaya Bulan dan Bintang Mengintip dan menerangi sebagian sisi kamarnya, memeberikan sebuah keindahan tersendiri.


=========================== ********* ===========================

To Be Continue...

thE Gre@tZ cUgIL
01-06-2011, 09:39 PM
Bagus kk :D
lanjutin fanficnya lagi ya :)

-0_bRoWniEs_0-
01-06-2011, 10:15 PM
Wokeehh.. tp apa ini FanFic yaahh ???

chikira
01-07-2011, 01:08 AM
wekz.... ane baru baca neh.... ane kira udah jauh.... lanjut aja dah....

-0_bRoWniEs_0-
01-07-2011, 07:09 AM
PAGE 4




Burung-Burung berkicau dengan indah dan sang Surya menyambut Pagi ini dengan Mempesona. Angin Pagi yang masuk dari ventilasi dan celah-celah jendela membelai lembut Rainie dan membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Rainie Siap dan begitu semangat hari ini. Dengan langkah sigapnya bagai harimau ingin menyantap mangsanya. Ia berlari menuju Kamar mandinya.


Setelah selesai Mandi ia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sarapan pun jadi, ia segera menyantapnya dan membersihkan semuanya. Dengan pakaian Rapi,ia berjalan menuju garasi mobilnya dan membawa mobil itu menemaninya pergi kerumah Carrasco. Setibanya disana, Rainie bertemu dengan adik Carrasco.



“Hai Ines.” Sapa Rainie.
“Hai juga kakak, apa kau ingin bertemu dengan kakakku?”
“Ya, Apa dia ada di rumah?”
“Ada, akan ku panggilkan Kakakku.”


10 menit menunggu, akhirnya Carrasco datang dengan mengenakan pakaian rapi dan rambut yang tertata. Rainie terus saja memandangi Carrasco Karena dia benar-benar heran dengan Penampilan Carrasco. Carrasco membuka mulutnya dan memecahkan keheningan yang terjadi.



“Darimana Kau tau rumahku? Apa kau benar-benar seorang agen?”
“Hah? Tentu Saja. Kalau aku bukan agen sepak bola, mana mungkin aku mengejar-ngejarmu seperti ini.”
“Oh, Hari ini aku sibuk. Aku akan pergi untuk melamar kerja dan kau,,pulanglah.”
“Ta..Ta..Ta..pi … Carrasco.”

Carrasco pergi begitu saja, 5 menit ia berjalan dan sampailah ia di Halte bus tempatnya biasa menunggu Bus. Bus sesuai jurusan yang ia inginkan tiba. Carrasco segera naik dan memilih kursi kosong untuk ia duduki. Didalam Bus ia melihat Anak laki-laki yang sedang asik bermain bola. Melihat hal itu, ia teringat akan masa Kecilnya dan bola adalah temannya selama ini. Berfikir, menimbang-nimbang, terus memikirkan. Dengan gesitnya ia menyuruh sopir bus mengentikan busnya dan turun dari bus. Carrasco berlari menuju Perusahaan tempat Rainie bekerja.


Setibanya disana, dengan keringat bercucuran hanya lelaki paruh baya yang ia temui. Terus mencari dan mencari. Ia mencari sesosok Wanita gila yang terus mengejar-ngejarnya 2 hari ini. Dengan nafas terengah-engah, Carrasco bertanya dengan laki-laki tua itu.



“Paman, apa Rainie Herbert bekerja disini?”
“Heem, Kau ini Siapa?” dengan pandangan sinis.
“Aku.. A..ku Carrasco Fernandez.”
“Kau yang bernama Carrasco?” tanyanya terkejut.
“Ya, Paman.”
“Paman? Panggil aku Direktur Rard.”
“Oh baik Direktur Rard. Sekarang bisa kau tunjukkan dimana Rainie?”
“Hubungi Saja dia. Kalau kau tidak tahu nomor ponselnya, kau bisa lihat di meja ujung sana.”
“Maaf direktur, tapi aku tidak memiliki Ponsel.”
“Dasar. Sudah pemain Amatir, tidak punya Ponsel. Apalagi kekuranganmu?”
“Aku juga tidak punya kendaraan Direktur. Bolehkah aku meminjam ponselmu?”
“Oh astaga, apa yang disukai Rainie dari orang ini.” Gerutunya.


Dengan wajah kesal, Direktur Rard mengambil Ponselnya dan menghubungi Pelayannya itu. Direktur Rard tidak pernah mau menganggap Rainie mitra kerja. Ia selalu menganggap Rainie sebagai pelayannya.



“Hallo..” ucap Rainie.
“Hei pelayan, pemainmu Carrasco Sekarang berada dikantor. Segera temui dia. Sekian!”

Direktur Rard mengakhiri Pembicaraan begitu saja tanpa mendengarkan jawaban dari Rainie. Rainie yang mendengar kabar baik itu, Cepat-cepat ke Kantornya. Menyetir Mobil dengan penuh senyum, ia benar-benar senang karena Firasatnya mengatakan bahwa Carrasco akan mengikat Kontraknya dan ia tak harus menjadi bulan-bulanan Direkturnya itu.


Sesampainya di Kantor, Rainie memarkirkan Mobilnya dan berlari kedalam menuju Ruangnya bekerja. Dilihatnya Carrasco dan Direkturnya sedang berbincang-bincang. Walau dia Senang Sekali tetapi Rainie tidak ingin menunjukkan betapa bahagianya dia agar tidak diinjak-injak oleh direkturnya.



“Carrasco? Untuk apa kau mencariku?”
“Jangan berpura-pura Bodoh, Jelas saja aku ingin membuat kesepakatan denganmu. Aku akan mengikuti test di Club itu.”
“Baiklah, Pertama-tama Tanda tangani dulu Kontrak ini.”

Selesai dengan semua berkas-berkas itu, Rainie, Carrasco dan Direktur Rard pergi menemui Pelatih Cesar yaitu Pelatih FC Barcelona. Setibanya disana, Asisten Pelatih Cesar mengatakan bahwa pelatih sedang ada di lapangan. Mereka segera pergi kelapangan. Disana Carrasco diminta untuk menunjukkan bakatnya.



“Dia pemain yang kau promosikan Gerard?” tanya Pelatih pada direktur.
“Siapa bilang? Itu adalah hasil kerja Pelayanku.” Jawab direktur.
“Heeh,, Kau.. Siapa namamu?” tanya pelatih pada Carrasco.
“Namaku.. Ca-Ras-Co Fernandez.”
“Kenapa Kau mengeja namamu seperti itu?” tanya pelatih.
“Agar Orang tau bahwa aku adalah Ca-Ras-Co.”
“Ya Sudahlah. Ganti pakaianmu dan tunjukkan bakatmu.”
“Hah? Hei agen, apa kau membawakan aku baju?”
“Ah? E..e.. tidak.”
“Bagaimana bisa tidak?” tanya direktur dengan marah.
“Tapi Rasco datang mendadak.” Jawabnya panik.

Tiba-tiba saja pemain unggulan di Club itu datang. Pelatih memanggilnya dan Menyuruhnya untuk meminjamkan pakaian pada Carrasco.



“Haii Domi,, Pinjamkan pakaian dan Sepatumu untuk dia.”
“Baik Pelatih.”
“Terima Kasih Kawan.” Ucap Carrasco pada Dominique.

Carrasco pergi untuk mengganti pakaiannya dan setelah selesai ia siap untuk mencetak Gol permintaan pelatih. Pertama kalinya ia menginjakkan kakinya ke lapangan Rumput milik FC Barcelona. Rainie terus menyemangatinya.

Carrasco memulai tendangan pertamanya. Akh sayang sekali Bola melambung sangat Tinggi dan Keluar dari Lapangan. Dominique sebagai Pemain Unggulan disitu menertawakan dan menghina Carrasco. Tampak Raut muka kecewa dari beberapa orang disana. Tetapi Carassco tidak menyerah disini,Ia mencoba dengan gaya Andalannya yaitu mencetak Gol dengan Kepalanya. Tendangan Kedua ini tepat mengenai sasaran dan menambahkan 1 point untuk Carrasco dan Nampaknya Menarik simpatik banyak orang, bahkan Pelatih Cesar merasa bahwa Carrasco mempunyai bakat.
Usai Uji coba tadi Pelatih Cesar memberitahukan kepada Direktur Rard Dan Rainie bahwa Carrasco mula besok dapat bergabung dengan FC Barcelona tetapi status masih Pemain Cadangan. Mendengar kabar baik itu, Rainie ingin Segera memberitahukan kepada Carrasco.

“Carraso…”
“Ya kenapa?”
“Permainanmu Sungguh Hebat.”
“Ah, Kau ini bisa saja. Mana mungkin Hebat, baru beberapa saat bermain saja aku sudah menghilangkan Bola milik mereka.”
“Tetapi mereka mengizinkanmu bergabung.”
“Apa? Sungguh?.”
“Hee’eemb.”

Dengan Bahagianya, Carrasco mengangkat Rainie dan Berputar-putar sambil tertawa lepas. Sepertinya Dia tidak bisa mengontrol kegembiraannya.



“Carrasco, Turunkan aku.”
“Hhh, Ya maaf. Aku senang sekali sampai-sampai aku lupa telah membuatmu Pusing.”
“Ya Sudah Sekarang Kau Persiapkan dirimu, besok latihan dimulai Pukul 9.00 jadi jangan sampai Terlambat.”
“Heemb , Yah.”
“Cepat masuk ke Mobil, aku akan Mengantarkanmu Pulang.”
“Baik Agenku.”

Sesampainya dirumah Carrasco, Rainie menolak Untuk mampir karena dia sedang ada janji dengan Julio. Carrasco menunggu hingga Rainie dan Mobilnya Lepas dari pandangannya. Saat ia Hendak masuk Kedalam rumah, Carrasco teringat dengan Pekerjaan yang ditawarkan Serra. Carrasco segera pergi menemui Serra di Restaurant milik ibunya. Carrasco mengajak Serra untuk mengobrol di taman dekat Restaurant.



“Serra, Ikut aku Ketempat itu.”
“Mau apa disana?”
“Ada yang ingin Kubicarakan.”
“Baiklah.”

Berjalan Sekitar 5 Menit dan mereka mencari tempat untuk duduk dan bicara dengan tenang.



“Maafkan aku Karena tidak bisa datang ke perusahaan yang kau tawari untuk melakukan wawancara.”
“Tak apa Rasco, Kau lakukan ini kan demi masa depanmu.”
“Kau benar-benar teman yang baik. Aku senang mempunyai teman sebaik dirimu.”
“Rasco, Apa kau diterima kedalam Club itu?”
“Ya. Mereka mengajakku bergabung.”
“Sungguh?”
“Tentu. Besok aku resmi bergabung dengan mereka.”
“Ouh, Selamat. Kau pasti bisa menjadi Pemain berbakat.”
“Semoga saja. Hari sudah larut. Kau butuh istirahatkan?”
“Ya, Kau Juga Rasco.”

Mereka berdua kembali kerumah masing-masing. Sesampainya dirumah, Rasco menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke Tempat tinggal Barunya. Rasa ngantuknya bahkan tak terasa, ia dengan semangatnya terus memikirkan hal hal yang akan ia lakukan esok hari di asrama FC Barcelona. Arlojinya menunjukkan pukul 01.00, Ia menyempatkan untuk beristirahat sejenak agar besok ia tampak lebih segar.




============================= ****** ===============================

TO Be Continue...

thE Gre@tZ cUgIL
01-07-2011, 09:05 AM
Wokeehh.. tp apa ini FanFic yaahh ???

fan fic itu, fan fiction kan.
klo ini cerita fiksi sih bisa dibilang fanfic :D

chikira
01-08-2011, 01:07 PM
wekz.... ane jadi pembaca setia aja deh tapi ada satu saran neh....

koq kalo tokoh utama ato tokoh pembantu melakukan sesuatu pasti kata2nya panjang lebar.... contohnya saar reine bangun...

dane
01-08-2011, 01:22 PM
itu post pembuka thread gambarnya print screen excel / word buatan sendiri yah ???
disarankan ubah dulu ke bahasa Indonesia teksnya, soalnya kalo gak diubah hasilnya yah kayak gitu
ada garis bawah warna merahnya, gak enak liatnya itu

bentar bentar.. bagian yang ini yang kurang paham maksdnya.. hihihi

itu lho, bagan tokoh-tokohnya, masih banyak garis bawahnya yang warna merah
mestinya ditranslate dulu bahasanya ke Indonesia
kalo bahasanya masih Inggris, pasti yang bahasa Indonesia dikasih garis bawah warna merah dari sononya

LaDDy 'eF.Che'
01-09-2011, 06:25 PM
wah saya cukup mengenal cerita ini .. boleh tidak ya saya lanjutkan..

Vonum
01-10-2011, 10:06 AM
Burung-Burung berkicau dengan indah dan sang Surya menyambut Pagi ini dengan Mempesona. Angin Pagi yang masuk dari ventilasi dan celah-celah jendela membelai lembut Rainie dan membangunkannya dari tidur nyenyaknya. Rainie Siap dan begitu semangat hari ini. Dengan langkah sigapnya bagai harimau ingin menyantap mangsanya. Ia berlari menuju Kamar mandinya.

OK, gaya menulisnya memang seperti ini.



[INDENT]Setelah selesai Mandi ia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sarapan pun jadi, ia segera menyantapnya dan membersihkan semuanya. Dengan pakaian Rapi,ia berjalan menuju garasi mobilnya dan membawa mobil itu menemaninya pergi kerumah Carrasco. Setibanya disana, Rainie bertemu dengan adik Carrasco.

Tidak boleh dibiarkan, seharusnya dipisah.
ke rumah
di sana

Masih sulit membedakan?


Banyak orang yang masih sulit menentukan apakah prefiks di- harus dipisah atau digabung. Cara yang mudah adalah melihat struktur kalimat itu. Kalau berupa kalimat pasif maka di- harus digabung.
Misal: Rumahku baru saja direnovasi sehingga tampak indah.

Pemisahan di- dilakukan bila menunjukkan suatu tempat.
Misal: Ayahku bekerja di sebuah perusahaan otomotif.

Kakeknya sedang dirawat di RS Jantung Harapan Kita.

Mudah bukan?





“Hai Ines.” Sapa Rainie.

Kalimat langsung diakhiri dengan koma. Untuk kasus khusus berupa kalimat langsung lanjutan dari kalimat sebelumnya diakhiri dengan titik.
Contoh: "Tunggu sebentar," teriak Edwin "Aku belum ganti baju."

Sekilas cerita ini mirip dengan drama Korea No Limit dengan tokoh utamanya Kang Hae Bin (agen pemain) dan Cha Bong Gun (pemain bola). Rasanya pakai font standar FTI lebih enak dibaca daripada Century Gothic+Size 4+Color. Selain itu marginnya tampak semrawut, kenapa harus pakai indent berkali-kali?