Page 2 of 2 FirstFirst 12
Results 11 to 20 of 20

Thread: Film-Film Berbau MIRIP TRAVIAN.

  1. #11
    Moderator Resists's Avatar
    Join Date
    Jul 2009
    Location
    Raven HQ
    Posts
    1,056

    Default

    Quote Originally Posted by duoduck View Post
    ajib emang nih film, ane nonton n gak mengecewakan. Btw banyak jg film yg mirip ama travian, klo 300 itu mirip nggak yah?
    Quote Originally Posted by Anak Aneh View Post

    The 300 = 300 orang ksatria ngedefend satu desa dengan wave attack yang... itung sendiri lah
    300



    300 merupakan salah satu film adaptasi dari sebuah novel 300. Film ini disutradarai oleh Zack Snyder dan dibintangi oleh Gerard Butler, Lena Headey, David Wenham, Dominic West, dan masih banyak lagi. Dirilis oleh Warner Bros. Pictures pada tanggal 9 Maret 2007.

    Sinopsis:

    Utusan Kekaisaran Persia tiba di Sparta, meminta Sparta tunduk pada raja Xerxes (Rodrigo Santoro). Namun Leonidas (Gerard Butler), raja Sparta, menolaknya dan membunuh semua utusan Persia. Akibatnya Sparta harus berperang melawan Persia.

    Leonidas bersama 300 prajurit Sparta pergi menuju Thermophylae dan berencana menahan pasukan Persia di sana, dalam perjalan kaum Arkadia ikut bergabung bersama mereka. Di Themophylae, Pasukan Sparta berjuang mati-matian melawan pasukan Persia yang jumlahnya jauh lebih banyak. Tapi, pada akhirnya, Leonidas bersama dengan 300 prajurit Sparta gugur dalam peperangan terakhir,namun, sang raja menyuruh kepada kaptenya untuk pulang ke kerajaan Sparta dan sang raja juga menitipkan pesan kepadanya, pesan yang cukup sederhana "Ingatlah Alasan Kami Gugur". Selang beberapa tahun, 10.000 ribu pasukan Sparta bersama dengan 30.000 pasukan Yunani yang bebas menyerang kerajaan persia yang masih ada di Yunani.

  2. #12
    Moderator Resists's Avatar
    Join Date
    Jul 2009
    Location
    Raven HQ
    Posts
    1,056

    Default

    Alexander The Great



    Alexander The Great

    Alexander bersama teman dekatnya Hephaestion dididik oleh Aristoteles yang merupakan murid Plato, kemudian memimpin Macedonia dan mulai menyatukan kota-kota peradaban Yunani menjadi satu kesatuan selama 13 tahun hingga wafat karena sakit. Ide menyatukan kota-kota Yunani adalah berasal dari ayahnya Raja Philip II dari Macedonia yang beristrikan Olympias.

    Pada saat Philip II menaklukan Byzantium (sekarang Istanbul), Alexander yang masih berumur 16 tahun ditinggal di Macedonia dan berhasil bertahan dari serangan kerajaan Maedi dan serangan Sacred Band of Thebes (sebuah pasukan elite militer homoseks sebanyak 150 pasang). Philip II kemudian dibunuh oleh Pausanias (pembunuh, assassin), yang kemudian tahta Macedonia dipimpin oleh Alexander pada usianya yang ke-20. Terbunuhnya Philip II masih menjadi misteri apakah ada keterlibatan Alexander karena Olympias diceraikan atau mungkin juga hasutan Raja Persia Darius III.

    Penaklukan pertama Alexander adalah ke kerajaan Persia yang dipimpin Darius III Codomannus melalui perang Battle of Issus (sekarang Iskenderum, Turki) meskipun dengan kekuatan tentara yang hanya seperempatnya yang dipimpin jendral Ptolemy dibanding kekuatan Persia.

    Selanjutnya selama 12 tahun Alexander menguasai pantai Laut Tengah Mesir, kemudian Babylonia hingga ke wilayah Pakistan dan India Utara sekarang. Selain di Mesir Alexander juga mendirikan/diabadikan di kota-kota berikut:
    * Alexandria Asiana, Iran
    * Alexandria in Ariana, Afghanistan
    * Alexandria of the Caucasus, Afghanistan
    * Alexandria on the Oxus, Afghanistan
    * Alexandria of the Arachosians, Afghanistan
    * Alexandria on the Indus, Pakistan
    * Alexandria Eschate, “The furthest”, Tajikistan

    Mungkin sudah ditakdirkan wilayah seputaran Mesopotamia (sekarang Iraq) selalu menjadi wilayah peperangan hingga sekarang. Kisah Alexander The Great di atas kini diabadikan oleh sutradara Oliver Stone ke layar lebar dengan judul Alexander.

  3. #13
    Moderator Resists's Avatar
    Join Date
    Jul 2009
    Location
    Raven HQ
    Posts
    1,056

    Default

    TROY



    Kisah perang Troya yang menempatkan mitologi Yunani Kuno sebagai seorang ksatrianya. Kisah ini sebetulnya merupakan efek tragis dari sebuah kecantikan, dimana kecantikan itu milik Helen dari Sparta. Film TROY sebetulnya meramu banyak cerita epic Yunani. Troy sendiri diangkat dari kisah The Illiad yang di karang oleh Homer pada 800 tahun sebelum Masehi. Film Troy ini di perankan oleh aktor-aktor Hollywood seperti Brad Pitt sebagai Achilles, Diane Krugger sebagai Helen, Orlando Bloom sebagai Paris, Eric Bana sebagai Hector, Brian Cox sebagai Agamemnon, Sean Bean sebagai Odesius--Odessey. Troy disutradarai oleh Wolfgang Pietersen dan naskah di tulis oleh David Benioff

    Inti film ini sebetulnya adalah kisah cinta Paris dan Helen yang mengakibatkan 2 negara berseteru. Didalamnya juga terdapat pesan moral dimana seorang kakak seperti Hector tetap membela adik tersayangnya kendati kesalahan fatal yang di lakukan sang adik sampai membuat rakyat dan negaranya hancur dan sengsara. Dimana seorang Musuh yang gagah berani masih mampu memberikan kehormatan kepada musuh lainnya. Nilai-nilai patriotisme di tanamkan disini, dimana mengajarkan kita untuk mencintai dan membela negara seperti mencintai dan membela harga diri Ibu kita sendiri dengan gagah berani.

    Efek film sudah tak di ragukan lagi. Bagaimana adegan peperangan yang tergambar nyata, bagaimana kru membuat kuda Troya yang besar berisi manusia itu. Semuanya sangat memukau. Kualitas akting pemain, membuat saya terhanyut dalam aliran cerita epos Yunani yang terkenal ini. Film Troy mendapat anugerah OSCAR dalam kategori Kostum terbaik.

  4. #14
    pakpahan's Avatar
    Join Date
    Sep 2010
    Location
    Padang,West Sumatera
    Posts
    365

    Default

    udah nonton semua..

    yang tentang gallia : asterix n obelisk masuk??
    I like treachery, but I cannot say anything good of traitors

  5. #15
    and-x's Avatar
    Join Date
    Jun 2009
    Location
    Whereever I want
    Posts
    327

    Default

    Kingdom of Heaven sama King Arthur juga patut diperhitungkan gan
    BLUE is the colour, football is the game.
    We are all together and winning is our aim.
    So cheer us on through the sun and the rain.
    Cause CHELSEA, CHELSEA is our name!

  6. #16
    Moderator Resists's Avatar
    Join Date
    Jul 2009
    Location
    Raven HQ
    Posts
    1,056

    Default Spartacus 3 - Vengeance



    Spartacus: Blood and Sand tayang perdananya di MAX pada bulan Juli 2010 lalu dan menjadi salah satu serial televisi yang banyak diperbincangkan.

    Season ini berakhir dengan episode penuh ketegangan "Kill Them All" yang dalam episode tersebut Spartacus memimpin penyerangan secara brutal di House of Batiatus dan episode ini memberikan lebih dari apa yang dijanjikan oleh judul episode ini.

    Tayang perdana Jumat, (22/6) di MAX, sepuluh episode Spartacus: Vengeance dimulai dengan kisah beberapa minggu setelah pembunuhan massal. Capua sedang berada dalam kekacauan, para gladiator berhasil melarikan diri dan membentuk suatu sekutu yang gusar.

    Spartacus ingin membalaskan dendam kepada pria yang bertanggung jawab atas kematian istrinya, namun ia segera menyadari bahwa tujuan hidupnya lebih dari sekadar membalaskan dendam atas kematian Sura. Misinya adalah membangun pasukan, membebaskan para budak dan menggulingkan pemerintahan Romawi.

    Aktor asal Australia Liam McIntyre (Ektopos, Radev, Neighbours, The Pacific) berperan sebagai Spartacus, pemeran utama dalam serial peraih film terpuji ini.

    McIntyre bergabung dengan jajaran aktor dan aktris dari serial Spartacus season sebelumnya seperti, Lucy Lawless (Xena: Warrior Princess, Battlestar Galactica) sebagai Lucretia; Peter Mensah (Avatar, 300, The Incredible Hulk) sebagai Oenomaus atau dikenal dengan Doctore; Manu Bennett (The Marine, 30 Days of Night) sebagai Crixus; Dustin Clare (Underbelly, Satisfaction) sebagai Gannicus; Nick E. Tarabay (Crash, CSI: Miami) sebagai Ashur; dan Katrina Law (Third Watch) sebagai Mira.

    Season baru ini juga menghadirkan kembali deretan pemain dari 'Blood and Sand' seperti Craig Parker (The Lord of the Rings Trilogy) sebagai Gaius Claudius Glaber, komandan Roma yang menjebloskan Spartacus kedalam perbudakan, dan istrinya yang memikat namun licik Ilithyia (Accidents Happen), diperankan oleh Viva Bianca.

    Cynthia Addai-Robinson (Dirt) juga turut bergabung dalam serial ini dan berperan sebagai Naevia, mantan budak Lucretia yang dibuang dari Ludus karena terlibat hubungan asmara degan Crixus.

    Spartacus: Vengeance diproduseri secara eksekutif oleh Rob Tapert (The Grudge, Xena: Warrior Princess dan Hercules: The Legendary Journeys), Steven S. DeKnight (Buffy the Vampire Slayer), Sam Raimi (Spider-Man dan The Evil Dead), dan Joshua Donen (The Quick and the Dead).

    Tim kreatif dalam serial Spartacus: Vengeance merupakan tim kreatif yang sama dengan dua season terdahulu, Spartacus: Blood dan Sand, dan Spartacus: Gods of the Arena. Spartacus: Vengeance tayang perdana dengan dua episode diputar secara berkelanjutan.
    Last edited by Resists; 10-12-2012 at 12:29 PM. Reason: Tambahan

  7. #17
    Moderator Resists's Avatar
    Join Date
    Jul 2009
    Location
    Raven HQ
    Posts
    1,056

    Default The Eagle



    The Eagle

    Karir sutradara asal Skotlandia, Kevin Macdonald, sama sekali jauh dari kata mengecewakan. Memulai karirnya sebagai seorang sutradara film dokumenter pada tahun 1995, ia kemudian berhasil memperoleh sebuah Academy Awards untuk film dokumenternya, One Day in September (1999), yang berkisah mengenai pembunuhan atlit Israel di Olimpiade Munich pada tahun 1972. Setelah beberapa film dokumenter setelahnya, Macdonald melakukan debut penyutradaraan pada film layar lebar dengan mengarahkan The Last King of Scotland (2006), yang berhasil memenangkan sebuah Academy Awards untuk aktor Forest Whitaker, yang diikuti dengan adaptasi miniseri State of Play (2009) yang kemudian berhasil meraih banyak pujian dari kritikus film dunia.

    Karya terakhir Macdonald, The Eagle, yang merupakan adaptasi dari novel historis populer karya Rosemary Sutcliff yang berjudul The Eagle of the Ninth (1954), sayangnya, tidak akan memberikan kredibilitas tambahan pada karir penyutradaraan Macdonald. Menyinggung mengenai misteri hilangnya satu legiun tentara Roma yang dikenal sebagai Ninth Legion di dalam medan perang – satu topik yang juga baru diangkat sutradara Neil Marshall lewat filmnya, Centurion (2010), Macdonald harus diakui mampu merangkai tiap adegan peperangan yang ada di dalam cerita dengan tingkat kerapian yang cukup baik. Sayangnya, jalan cerita yang terlalu bertele-tele untuk sebuah tema yang telah banyak diangkat serta kemampuan akting para pemerannya yang tidak terlalu menonjol membuat 114 menit durasi film ini terasa cukup melelahkan.

    Berlatar belakang pada abad ke-2 SM, The Eagle dibuka dengan narasi yang menceritakan mengenai pasukan Roma yang hampir tidak dapat dikalahkan di setiap peperangan yang mereka hadapi, kecuali pada sebuah perang yang terjadi di pegunungan Skotlandia. Pasukan Roma yang dikirim ke daerah tersebut, disebut sebagai Ninth Legion, menghilang tanpa jejak, yang diikuti dengan hilangnya sebuah patung emas berbentuk elang yang dianggap para pembesar Roma sebagai sebuah lambang harga diri bangsa mereka. Kekalahan tersebut dianggap sangat memalukan dan terus berusaha ditutup-tutupi oleh banyak pihak.

    Berlanjut pada masa dua puluh tahun kemudian, The Eagle mengenalkan penontonnya pada Marcus Aquila (Channing Tatum), anak dari pimpinan Ninth Legion yang dianggap bertanggungjawab terhadap kekalahan pasukan tersebut. Marcus memiliki obsesi yang sangat besar untuk berusaha menemukan patung elang emas yang hilang agar dapat mengembalikan nama baik keluarganya. Untuk itu, Marcus akhirnya memutuskan melakukan perjalanan ke daerah sebuah suku pedalaman yang dianggap menyimpan patung tersebut. Walau telah diingatkan oleh sang paman, Aquila (Donald Sutherland), bahwa perjalanan tersebut adalah sangat mematikan, Marcus mengacuhkannya dan terus melanjutkan perjalanan yang ia lakukan bersama budaknya, Esca (Jamie Bell).

    Dengan premis yang digambarkan tersebut, sepertinya penonton telah dapat menebak kemana arah film ini akan berjalan. Dua karakter utamanya, yang pada awalnya tidak saling mempedulikan satu sama lain, akan mulai saling menghormati dan bahu membahu dalam menghadapi berbagai rintangan yang mereka hadapi di sepanjang perjalanan. Sangat simpel, dan memang tidak ada sebuah elemen baru yang coba ditanamkan sutradara Kevin Macdonald di dalam jalan ceritanya.

    Macdonald, harus diakui, mampu merangkai setiap adegan peperangan yang ada di dalam jalan cerita film ini dengan cukup baik. Adegan-adegan itu mampu terjalin dengan begitu erat dan terlihat nyata yang kemudian menjadi bagian terbaik di sepanjang penceritaan film ini. Namun, hal tersebut tetap tidak mampu menutupi betapa tipisnya cerita film ini. Dan ketika Macdonald menghadirkannya dalam tempo yang sederhana serta durasi yang hampir mencapai dua jam penuh, sangat dapat dirasakan bahwa The Eagle memiliki jalan cerita yang menjemukan dan seringkali melelahkan untuk terus diikuti.

    Sebuah kesalahan fatal lainnya berada di tangan sang aktor utama, Channing Tatum. Harus diakui, secara fisik, Tatum memiliki seluruh persyaratan yang dapat membuatnya terlihat sebagai seorang prajurit pasukan Roma. Namun sebagai seorang pemimpin pasukan? Tatum sama sekali tidak memiliki kharisma yang kuat untuk sampai di tahap tersebut. Lihat saja pada beberapa bagian ketika karakter Marcus berteriak dan memberikan perintah pada pasukannya. Tatum masih perlu banyak belajar untuk dapat menuangkan seluruh aliran emosi yang tepat dalam setiap kalimat dan ekspresi wajah yang diperlukan untuk menghidupkan karakternya.

    Selain Tatum, seluruh aktor lainnya menampilkan permainan yang tidak mengecewakan… setidaknya bila dibandingkan dengan Tatum. Yang paling terasa, tentu saja, Jamie Bell yang mendampingi Tatum hampir di setiap adegan. Sayangnya, seluruh karakter yang ada di The Eagle, selain karakter yang diperankan Tatum, sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk menonjolkan diri mereka di dalam jalan cerita. Hasilnya, akting Bell, Mark Strong, aktor senior Donald Sutherland, serta aktor Perancis yang baru saja sukses lewat A Prophet (2009), Tahar Rahim, terasa tidak begitu berarti untuk peningkatan kualitas film ini secara keseluruhan.

    The Eagle sama sekali bukanlah sebuah film yang sangat buruk. Pada beberapa adegan, film ini sempat tampil cukup meyakinkan. Tata sinematografi yang dihasilkan oleh Anthony Dod Mantle juga sangat memikat di sepanjang cerita film. Namun, hal tersebut juga tetap tidak mampu menghilangkan fakta lemahnya kualitas penulisan cerita film ini, yang kemudian dihadirkan Macdonald dengan tempo yang tidak begitu cepat dan durasi yang begitu lama, yang semakin membuat The Eagle menjadi terasa terlalu menjemukan untuk diikuti kisahnya.

    The Eagle (2011)

    Directed by Kevin Macdonald Produced by Duncan Kenworthy Written by Jeremy Brock (screenplay), Rosemary Sutcliff (novel) Starring Channing Tatum, Jamie Bell, Donald Sutherland, Mark Strong, Tahar Rahim, Paul Ritter Music by Atli Örvarsson Cinematography Anthony Dod Mantle Editing by Justine Wright Studio ToledoProductions/Film4 Distributed by Focus Features Running time 114 minutes Country United States, United Kingdom Language English

  8. #18

    Default

    Asterix and Obelix?
    animation made by me -_-, sori jelek

  9. #19

    Default

    setiap game pasti di film kan oleh para produser film. jadi yang kreatif itu para programmer game bukanparaproduser film

  10. #20
    WonderLand's Avatar
    Join Date
    Jun 2009
    Location
    Nothing
    Posts
    1,962

    Default

    The Eagle, TROY, 300

    emang seru filmnya
    hahaha
    jadi kangen travian
    Nothing to share


Page 2 of 2 FirstFirst 12

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •