Page 2 of 8 FirstFirst 1234 ... LastLast
Results 11 to 20 of 72

Thread: Aterias

  1. #11
    Honoured Retiree
    Join Date
    Dec 2009
    Location
    Redaksi iTravMagz
    Posts
    1,101

    Default

    Quote Originally Posted by MC Mong View Post
    Mong berlari melewati pepohonan menjauhi binatang buas tersebut, di belakangnya satu dari tiga babi hutan sudah menggelepar di lantai hutan setelah beruang tersebut juga menyerangnya. Mong memutuskan ia tidak akan kembali ke arah perkemahan karena bau darahnya pasti akan membawa binatang buas yang lain bersamanya. Tetapi dengan keadaannya sekarang, ia tidak mungkin mengalahkan seekor beruang dewasa yang tengah mengamuk.
    Lantai.. agak gimana ya..


    Quote Originally Posted by MC Mong View Post
    ...Mong melepaskan genggamannya, alih-alih pergi meninggalkan dirinya anak beruang tersebut duduk dan menjilati luka di bahu manusia tersebut.
    Sebentar lagi diputer terus dicelupin..

  2. #12

    Default

    Quote Originally Posted by Vonum View Post
    Lantai.. agak gimana ya..



    Sebentar lagi diputer terus dicelupin..
    lantai hutan

    bukan promo produk lhoo!
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  3. #13

    Default

    Chapter 4

    Matahari sudah meninggi siang itu, seluruh penduduk sudah mulai mengepak barang mereka untuk meninggalkan lokasi perkemahan dan kembali berjalan menuju Desa Mellodia. Suasanapun tidak setegang kemarin, para wanita saling mengobrol dan berbagi cerita, anak-anak dan para remaja masih terlihat sibuk bermain, serta Equites Imperatoris yang memimpin kelompok tengah memberikan arahan-arahan pada para tentara dan laki-laki dewasa yang tersisa pada kelompok tersebut. Seluruhnya tampak lebih damai kecuali seorang gadis yang tengah berlari-lari mengelilingi perkemahan, wajahnya pucat dan berkeringat dingin. Ia terlihat sedikit panik, setiap penduduk yang ia ajak bicara hanya menggelengkan kepalanya dan memasang wajah bingung.

    Blus putihnya yang longgar sedikit basah dan lengket terkena keringat, rambutnya yang hitam sebahu mengibas di udara mengikuti tengokan kepalanya yang mencari-cari dengan panik. Joaan berhenti saat ia memutuskan Mong tidak ada di perkemahan, ia sudah menelusuri setiap tenda di daerah tersebut hampir tiga kali dan hasilnya tetap nihil. Jooan tidak ingin menangis, tidak sekarang, ia menahan genangan air itu agar tidak jatuh dari sudut matanya. Ia mengistirahatkan pengelihatannya sementara dadanya mulai sesak oleh suatu perasaan tidak nyaman yang membuatnya mual.

    Terakhir kali aku bertemu dengannya...

    Jooan kembali berlari kecil, melewati sekelompok anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran dengan seorang remaja yang menjadi binatang buasnya dan seorang anak yang berbaring di tanah berpura-pura mati karena tertangkap oleh binatang buas. Jooan teringat di tepi sungai itu terdapat hutan pinus yang cukup lebat dan salah satu dari gadis yang ikut mandi bersamanya menceritakan tentang hewan-hewan buas yang berkeliaran di hutan pinus tersebut.

    Tidak, tidak! Ayo Jooan, singkirkan pikiran bodoh itu dari otakmu!

    Meskipun begitu, pengelihatannya semakin dikaburkan oleh air mata yang tidak dapat dibendungnya. Ia melangkah gontai menyeberangi lembah hijau menuju sungai, tetapi seorang prajurit Equites Imperatoris menangkap pergelangan tangannya sebelum ia meninggalkan tempat perkemahan lebih jauh.

    "Oh syukurlah, tuan Imperatoris, tolong bantu saya menemukan teman saya yang menghilang sejak pagi tadi, ia berada di sungai di bawah lembah ini dan..."

    "Maaf nona muda, kita tidak bisa melakukan apa-apa, hutan itu adalah Hutan Papine dan sangat berbahaya. Bahkan dengan sepuluh orang prajurit sekalipun, saya ragu kita dapat keluar dengan selamat setelah memasuki tempat itu," potong prajurit itu.

    "Tetapi, teman saya..."

    "Maaf nona, mendekati sungai itu saja sudah cukup membahayakan karena letaknya tepat di pintu masuk menuju hutan, kehilangan satu orang sudah cukup menyulitkan, kami tidak bisa mengambil resiko kehilangan nyawa lain yang berharga," ia melanjutkan dan mulai menarik Jooan kembali menuju perkemahan.

    Jooan memberontak dengan sekuat tenaga untuk melepaskan pegangan prajurit tersebut tetapi tidak berdaya menghadapi kekuatan yang berkali-kali lipat darinya. Ia meronta pasrah dan mulai menangis, perasaannya mengatakan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi tetapi ia tidak mau mempercayainya. Ia hanya bisa mengikuti orang yang menuntunnya dengan patuh.

    Seluruh penduduk sudah membentuk formasi menyerupai lingkaran, seluruh pria dewasa dan para prajurit akan berada di sisi luar mengelilingi lingkaran tersebut sementara para wanita, remaja dan anak-anak berada di dalam lingkaran tersebut. Mereka mulai bergerak setelah aba-aba dikumandangkan dengan teriakan dari seorang Equites Legati yang memimpin mereka menembus Hutan Mossah. Gerombolan tersebut berjalan perlahan melewati pepohonan yang menjulang tinggi dan perlahan hilang ditelan bayangan hutan yang memayunginya.

    Gadis itu berdoa lalu menitikan air mata dan bisikan lembutnya terbawa angin mengitari angkasa.
    Last edited by MC Mong; 10-11-2011 at 10:27 PM. Reason: perbaikan sedikit :)
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  4. #14
    Honoured Retiree
    Join Date
    Dec 2009
    Location
    Redaksi iTravMagz
    Posts
    1,101

    Default

    MC Mong sudah memperbaiki penggunaan kalimat langsung, kemajuan yang berarti..
    Entah kenapa saya selalu berpikiran yang tidak-tidak setiap kali diceritakan tentang Jooan :hammer:


    Sedikit OOT:
    Formasi lingkaran seperti itu sering saya jumpai saat acara wisuda di sebuah kampus. Para wisudawan berada di tengah lingkaran anak-anak himpunan mahasiswa tingkat 2. Mereka berjalan beriringan sambil menghalau serangan para senior yang sudah lulus, baik itu berupa pukulan pipa PVC yang dibungkus koran ataupun semprotan sabun detergen. Jangan-jangan kita berasal dari kampus yang sama :|

  5. #15

    Default

    Quote Originally Posted by Vonum View Post
    MC Mong sudah memperbaiki penggunaan kalimat langsung, kemajuan yang berarti..
    Entah kenapa saya selalu berpikiran yang tidak-tidak setiap kali diceritakan tentang Jooan :hammer:
    di bagian mana penggunaan kalimat langsung yang belum efektif? Tolong jangan malu-malu membagikan kripik pedasnya. :|

    yang tidak-tidak?

    Quote Originally Posted by Vonum View Post
    Sedikit OOT:
    Formasi lingkaran seperti itu sering saya jumpai saat acara wisuda di sebuah kampus. Para wisudawan berada di tengah lingkaran anak-anak himpunan mahasiswa tingkat 2. Mereka berjalan beriringan sambil menghalau serangan para senior yang sudah lulus, baik itu berupa pukulan pipa PVC yang dibungkus koran ataupun semprotan sabun detergen. Jangan-jangan kita berasal dari kampus yang sama :|
    tidak mungkin
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  6. #16
    Honoured Retiree
    Join Date
    Dec 2009
    Location
    Redaksi iTravMagz
    Posts
    1,101

    Default

    Eh, ternyata saya salah lihat. MC Mong dari awal sudah benar dalam penggunaan kalimat langsung. Yang salah fanfic sebelah

    Mungkin akan lebih menarik kalau setiap chapter diberi judul. Itu sekadar masukan dari pembaca.
    Semoga fanfic ini gak berhenti di tengah jalan seperti Kisah Dua Sisi Berbeda dan 7 juta fanfic lain di forum ini

  7. #17

    Default

    Book 1 - Separated Line

    Chapter 5


    Kicauan burung dan suara bising dari serangga di luar ruangan membangunkan seorang laki-laki dari mimpi buruknya, mimpi yang sama dengan yang ia alami sebelumnya, wajah yang penuh darah, mata yang mengkilat kejam, bibir yang tersungging sinis. Pemuda itu menggeliat lemah, mengumpulkan kesadarannya yang berceceran di pikirannya. Ia menyentuh perlahan bahu kanannya yang terasa perih dan menegokkan kepalanya ke samping. Sebuah kamar kecil yang terbuat dari kayu mulai tertangkap fokus matanya, di samping tempat tidur terdapat lemari tua kecil dengan pahatan yang kasar dan sebuah ember besi di atasnya.

    Mong berusaha untuk duduk dengan seluruh tenaga yang masih dimilikinya, tangannya gemetar hebat dan ia kembali berbaring di kasur, memandangi langit-langit kamar yang dihiasi sarang laba-laba di sudutnya. Hal terakhir yang ia rasakan adalah sebuah tangan yang berotot mengangkat tubuhnya dari tanah, orang itu mengatakan sesuatu, suaranya terasa berat dan dalam, tetapi ia tidak dapat mengingat apa yang dikatakannya. Ia mulai bertanya-tanya siapa yang telah menyelamatkan nyawanya, ia berhutang besar kepada orang tersebut.

    Sementara pikirannya mengambang, matanya tertarik pada suara pintu yang terbuka dari seberang tempat tidurnya. Seorang anak kecil berusia sekitar sembilan tahun masuk dengan membawa daun-daunan dan sesuatu yang menyerupai akar tanaman. Rambut anak tersebut berwarna merah cerah dan dikepang hingga sepunggung, dengan perlahan ia membuka lemari di samping tempat tidur dan mengeluarkan piring batu dari dalamnya. Tangan mungilnya meletakkan dedaunan dan akar tanaman di atas piring tersebut dan mulai menggerusnya dengan telaten.

    Mong membalikkan badannya dan memperhatikan gadis kecil yang masih sibuk dengan pekerjaannya itu. Ia ingin memanggilnya tetapi tidak tahu harus berkata apa, jadi ia memutuskan untuk mengulurkan tangan kirinya.

    "KYAAAAAAAAAAAAA!!" gadis itu melonjak panik setelah jari Mong menyentuh pundak mungilnya.

    "Waaah, maaf aku tidak bermaksud mengagetkanmu, aku hanya ingin berterima kasih telah menyelamatkan..."

    Anak kecil itu menghambur keluar ruangan sambil berteriak-teriak dengan panik dan orang yang tampak seperti ibunya memeluk dan berusaha menenangkannya.

    "Tampaknya kau sudah terjaga," suara yang berat dan dalam mengalihkan perhatiannya.

    Seorang pria bertubuh besar memasuki kamar, rambut merahnya yang berantakan membuat Mong mengira matanya sedang mempermainkan dirinya. Mimpi buruknya tiba, orang yang membunuh keluarganya sekarang berdiri tepat di samping tubuhnya yang terbaring lemah. Perut Mong terasa ditusuk oleh lempengan besi yang mendidih dalam-dalam. Telinganya berdengung keras, dendam dalam mimpinya memompa aliran daranya dua kali lebih cepat. Matanya membelalak dan rahangnya terasa kaku menatap bola mata berwarna hitam kelam di wajah pria tersebut.

    "Kau!! Kau adalah..."
    Last edited by MC Mong; 10-12-2011 at 08:57 PM.
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  8. #18

    Default

    Quote Originally Posted by Vonum View Post
    Eh, ternyata saya salah lihat. MC Mong dari awal sudah benar dalam penggunaan kalimat langsung. Yang salah fanfic sebelah

    Mungkin akan lebih menarik kalau setiap chapter diberi judul. Itu sekadar masukan dari pembaca.
    Semoga fanfic ini gak berhenti di tengah jalan seperti Kisah Dua Sisi Berbeda dan 7 juta fanfic lain di forum ini
    judul ada kok, tapi bukan per chapter

    berdoa saja demikian ^^
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  9. #19
    Honoured Retiree
    Join Date
    Dec 2009
    Location
    Redaksi iTravMagz
    Posts
    1,101

    Default

    Quote Originally Posted by MC Mong View Post
    Kicauan burung dan suara bising dari serangga di luar ruangan membangunkan seorang laki-laki dari mimpi buruknya, mimpi yang sama dengan yang ia alami sebelumnya, wajah yang penuh darah, mata yang mengkilat kejam, bibir yang tersungging sinis. Pemuda itu menggeliat lemah, mengumpulkan kesadarannya yang berceceran di pikirannya. Ia menyentuh perlahan bahu kanannya yang terasa perih dan menegokan kepalanya ke samping. Sebuah kamar kecil yang terbuat dari kayu mulai tertangkap fokus matanya, di samping tempat tidur terdapat lemari tua kecil dengan pahatan yang kasar dan sebuah ember besi di atasnya.
    menengokkan


    Quote Originally Posted by MC Mong View Post
    Sementara pikirannya mengambang, matanya tertarik pada suara pintu yang terbuka dari seberang tempat tidurnya. Seorang anak kecil berusia sekitar sembilan tahun masuk dengan membawa daun-daunan dan sesuatu yang menyerupai akar tanaman. Rambut anak tersebut berwarna merah cerah dan dikepang hingga sepunggung, dengan perlahan ia membuka lemari di samping tempat tidur dan mengeluarkan piring batu dari dalamnya. Tangan mungilnya meletakan dedaunan dan akar tanaman di atas piring tersebut dan mulai menggerusnya dengan telaten.
    meletakkan



    Quote Originally Posted by MC Mong View Post
    Mong membalikan badannya dan memperhatikan gadis kecil yang masih sibuk dengan pekerjaannya itu. Ia ingin memanggilnya tetapi tidak tahu harus berkata apa, jadi ia memutuskan untuk mengulurkan tangan kirinya.
    membalikkan



    Quote Originally Posted by MC Mong View Post
    "Kau!! Kau adalah..."
    Bikin ibu-ibu dan pembantu rumah tangga penasaran, style episode sinetron yang bersambung

  10. #20

    Default

    Quote Originally Posted by Vonum View Post
    menengokkan

    meletakkan

    membalikkan
    Done! Baru bangun dari tidur sore, ngetik sambil ngantuk

    Quote Originally Posted by Vonum View Post
    Bikin ibu-ibu dan pembantu rumah tangga penasaran, style episode sinetron yang bersambung
    harusnya dilanjutkan, tapi sudah ngantuk, jadi dipotong biar dramatis kayak sinetron
    ps: status kelanjutan cerita sudah di update
    Last edited by MC Mong; 10-12-2011 at 09:02 PM.
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

Page 2 of 8 FirstFirst 1234 ... LastLast

Tags for this Thread

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •