Page 1 of 8 123 ... LastLast
Results 1 to 10 of 72

Thread: Aterias

  1. #1

    Default Aterias

    iseng-iseng buat fanfict, maaf kalo ceritanya jelek dan jarang update
    apalagi berenti tengah jalan!
    *amit-amit*

    ps: senior/seniorita yang udah tua, tolong dibantu dengan kripik dan kentangnya yang mengenyangkan ya, makasih!

    Aterias
    Prologue - The Beginning
    Chapter 1
    Chapter 2
    Chapter 3
    Chapter 4
    Book 1 - Separated Line
    Chapter 5
    Chapter 6
    Chapter 7
    Chapter 8
    Chapter 9
    Chapter 10

    Status:
    (04/10/11) kurang sehat di RL, mohon maaf atas keterlambatannya serta update story yang sedikit dan kurang menarik
    (12/10/11) banyak kesibukan RL, maaf bila update berikutnya tertunda
    (15/10/11) sibuk dengan server ts1 yang baru direstart, bila ada yang berminat menjadi dual, pasti akan memudahkan saya untuk melanjutkan chapter yang akan datang!
    (20/10/11) tugas kuliah + ts1 tanpa dual + (tanpa aliansi) = update terlambat :|
    (20/10/11) kecelakaan motor, luka ringan, tapi tetap harus istirahat 1/2 hari
    (22/10/11) entah mengapa mood menulis sedang tinggi hari ini, menambah beban kuluah dengan tugas yang belum dikerjakan sama sekali
    (28/10/11) persiapan UTS untuk minggu depan cancel update berikutnya, btw selamat hari sumpah pemuda! ^^
    (21/11/11) update 1 lagi story, semoga chapter 10 segera menyusul
    (28/06/13) jreng jreng jreng (?)
    Last edited by MC Mong; 06-28-2013 at 06:49 AM.
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  2. #2

    Default

    ATERIAS


    Prologue - The Beginning


    Chapter 1

    Matahari terbenam perlahan memerahkan kaki langit di atas reruntuhan Kota Aterias, burung gagak masih melayang-layang di atas bendera Romawi seolah mengamati beberapa manusia yang tengah membongkar puing-puing bangunan yang dulunya adalah rumah mereka. Seorang anak kecil terlihat sedang menangisi mayat kedua orangtuanya yang dibunuh pagi tadi bersamaan dengan tiga perempat penduduk lainnya. Legioannaire dan Praetorian yang masih selamat dibaringkan di titik temu untuk segera dirawat luka-lukanya, sedangkan sang kesatria terbunuh dengan tragis tertimpa batu raksasa dari alat pelontar Teuton. Aterias yang dulu dikenal sebagai kota dagang terbesar di Traviland kini tidak lebih dari sebuah sejarah di masa lalu.

    Mong menyeret langkahnya perlahan mengikuti barisan yang dipimpin para tetua meninggalkan Aterias menuju desa Mellodia yang dulunya adalah kampung halaman hampir sebagian penduduk kota tersebut. Menjadi salah satu remaja yang tidak berperang mempertahankan kota merupakan sebuah beban dan juga aib bagi dirinya, karena barak tidak mengizinkan siapapun yang belum berumur 20 tahun dan pantas menjadi seorang Legionnaire dan ikut berperang. Padahal Mong pemuda yang cukup pemberani, lincah dan cerdik, setidaknya itulah yang saat ini ingin dipikirkan Jooan, sahabat Mong sejak kecil atau setidaknya bisa dikatakan seperti itu. Mereka bertemu dan mulai berteman dekat di akademi.

    Gadis enam belas tahun itu meraih tangan Mong dan menggenggamnya erat hingga terasa sakit, rasa sakit itu hanya satu-satunya pengalihan pikirannya untuk menghadapi masa depan yang buram. Jooan sangat ketakutan sejak terpisah dari orangtuanya yang ditangkap untuk dijadikan budak oleh para Teuton, sedangkan orangtua Mong dibantai seluruhnya, mereka sebatang kara.

    Ini mustahil terjadi, ini begitu menakutkan, ini tidak nyata, Jooan terus membatin.

    Mong tidak memerhatikan, bahkan mungkin ia tidak merasakan tangan Jooan yang gemetar menahan air mata. Satu-satunya yang ia pikirkan hanyalah membalas dendam kepada Resvetem, orang-orang Teuton yang tinggal di daerah pegunungan dan menghancurkan kota kelahirannya.

    "Ayo, perjalanan menuju Mellodia masih tiga malam! Berjalanlah lebih cepat agar tidak tertinggal!" Salah seorang tua bertubuh gemuk dan tampak berwibawa berteriak di barisan bagian depan, dia adalah satu-satunya prajurit Equites Imperatoris yang tersisa.

    Mong segera tersadar dari lamunannya, ia hampir lupa bahwa ada tanggung jawab yang diserahkan padanya, menjaga Jooan adalah yang paling utama. Mereka terus berjalan menuju arah matahari terbenam melewati padang rumput yang sangat luas. Di ujung horizon terlihat samar-samar pepohonan yang tumbuh agak berdempetan.

    "Saat mencapai tepi Hutan Mossah, kita akan beristirahat," orang tadi kembali berteriak untuk memberitahu barisannya di belakang.

    Keputusan tersebut memang tepat, sesampainya di tepi Hutan Mossah hari sudah sangat gelap dan terlalu berbahaya bagi para penduduk yang tidak terlatih menggunakan senjata untuk menyeberangi hutan, ditambah lagi kebanyakan dari penduduk yang selamat adalah anak-anak yang disembunyikan di dalam cranny oleh orangtuanya, cranny adalah semacam goa rahasia yang tidak dapat ditemukan oleh para perampok.

    Sebagian penduduk dewasa mengumpulkan anak-anak ke satu tempat dan mulai menghitung jumlah orang-orang yang selamat, yang lainnya membangun pagar-pagar dari bebatuan dan membuat tenda-tenda kecil dibantu beberapa remaja yang selamat termasuk Mong dan Jooan.

    "Lapor, saya sudah selesai menghitung jumlah seluruh penduduk," seseorang datang kepada pemimpin kelompok tersebut.

    "Laporkan," balasnya masih sambil menyusun batu-batu.

    "Dari 2000 penduduk Aterias yang bertahan diperkirakan 300 orang, sekitar 200 orang dijadikan budak, kelompok yang menuju Mellodia terdiri dari 40 anak-anak, 12 orang remaja, 37 orang dewasa dan 6 orang prajurit yang terluka."

    "Totalnya 95 orang, eh? Baiklah, bantu yang lain menyusun pagar batu untuk mencegah babi-babi hutan dan serigala kelaparan mengincar anak-anak! Setelah semuanya tuntas, kita akan beristirahat malam ini dan melanjutkan perjalanan esok hari." Perintahnya kepada orang tersebut.

    "Baik!"
    Last edited by MC Mong; 10-12-2011 at 06:36 PM.
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  3. #3

    Join Date
    Jan 2011
    Location
    secret???
    Posts
    574

    Default

    mayan lanjutkan

  4. #4

    Default

    Chapter 2

    Sang surya menyapu wajah Mong dengan hangat, mengundang kesadarannya perlahan kembali dari mimpi buruknya yang mengerikan. Wajah itu, ia masih mengingat wajah brutal itu. Dengan perlahan ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan menguap lebar. Para penduduk yang sudah terjaga sebelumnya mulai merapihkan tenda-tenda, beberapa anak kecil tampak sedang asyik bermain kejar-kejaran dengan para remaja yang berusaha menghibur mereka.

    Mong memandang sekelilingnya, dataran tinggi itu cukup luas, dari kejauhan ia dapat melihat aliran sungai yang menjalar hingga ke reruntuha Aterias. Selesai meregangkan tubuhnya ia berjalan menuju aliran sungai tersebut dan bertemu segerombol remaja perempuan di tengah perjalanan yang baru saja selesai membasuh tubuh mereka. Jooan melambai dari belakang gerombolan tersebut dan menghampiri Mong yang berjalan menuju arah yang berlawanan dengannya.

    "Hai Mong, kalau kau ingin mengintip kami, maka bangunlah lebih awal," bisik Joan menggoda.

    Mong terbatuk-batuk dan gelagapan, mukanya memerah karena terkejut bercampur panik.

    "A.. Apa-apaan? Aku tidak berniat mengintip siapapun!" Mong berteriak terlalu kencang sehingga beberapa gadis di belakangnya menengok ke arah mereka dan berbisik-bisik curiga.

    Jooan hanya terkikik melihat Mong yang semakin senewen menerima tatapan penuh cela dan mengedip ke arahnya sekali, lalu iapun berlalu mengejar teman-temannya. Mong mengumpat rendah dan segera berjalan meninggalkan mereka, mukanya masih merah padam, bukan hanya karena malu tetapi melihat Jooan mengenakan hanya selembar blus putih yang agak kebesaran itu membuatnya semakin salah tingkah.

    "Ayolah, jauhkan pikiran ngawur itu!" Mong menepuk-nepuk wajahnya yang hanya membuat pipinya semakin merah.

    Dengan pikiran yang mengambang, Mong tidak menyadari berapa lama ia sudah berjalan hingga ia menuruni lembah dan menemukan anak sungai yang mengalir cukup lambat. Tempat itu cukup tersembunyi dengan beberapa pohon pinus tumbuh di sekitar aliran sungai dan terus tumbuh sepanjang alirannya hingga menyatu dengan pepohonan di hutan Mossah.

    Ia mencuci mukanya dan menyegarkan kembali pikirannya, pagi inipun mereka akan kembali melanjutkan perjalanan menuju Desa Mellodia. Mong menikmati hembusan angin dingin pagi itu, sudah cukup lama ia tidak keluar dari Aterias dan berjalan-jalan menikmati alam seperti ini, ia terlalu sibuk membantu pekerjaan orangtuanya di pasar dan belajar di akademi. Kenangan-kenangan lama berkelebatan di benak Mong dan mengingatkannya pada banyak orang, keluarganya yang tewas setelah penyerbuan Resvetem, teman-temannya yang hilang dan kehidupan normalnya di akademi.

    Belum selesai ia melamun, sebuah suara mengembalikan pikirannya pada kenyataan.

    Suara itu? Sepertinya berasal dari seberang sungai.

    Dan ia benar, matanya menangkap seekor anak beruang yang tidak berdaya diterjang dua babi hutan dewasa.

    Anak itu sekarat!

    Tanpa berpikir panjang, Mong langsung berlari melewati sungai dangkal sepanjang 10 meter tersebut menuju salah satu babi hutan, menendangnya di wajah dan membuat hewan itu terpelanting sejauh tiga meter. Babi yang lain meraung ganas membuat suara berisik yang meme'kakkan telinga dan Mong dapat mendengar suara-suara serupa dari berbagai arah di kejauhan.

    Sepertinya babi itu memanggil teman-temannya, apa yang harus aku lakukan sekarang?

    Tiga ekor babi hutan lain datang dari balik semak-semak, babi yang ditendang Mong juga sudah berdiri dan memandangnya tajam. Ia sudah terdesak, lima ekor babi hutan mengepungnya. Mong mengangkat anak beruang tersebut dan menggendongnya di atas kepala meski anak beruang tersebut malah menghujani wajahnya dengan cakaran yang belum dewasa tetapi cukup tajam.

    "Oh, diamlah, jangan melawan, aku berusaha menyelamatkan dirimu tahu!"

    Mong berusaha berbalik dan berlari menuju seberang sungai tempat ia datang tetapi ia menghadapi pemandangan yang jauh lebih mengerikan lagi. Seekor induk beruang setinggi dua setengah meter penuh luka, di rahangnya terdapat seekor babi hutan yang sudah remuk dan tampak sekarat. Induk tersebut menjatuhkan mangsanya lalu meraung dan di balas dengan tangisan bayinya di kepala Mong.

    Astaga, apakah ini akhir hidupku?
    Last edited by MC Mong; 10-06-2011 at 11:20 AM. Reason: gak bisa nulis: meme'kakkan telinga
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  5. #5
    Banned
    Join Date
    Sep 2011
    Location
    Museum s6
    Posts
    115

    Default

    numpang lewat ya mas bro sis kk ... om tante [IMG][/IMG]

  6. #6

    Join Date
    Jan 2011
    Location
    secret???
    Posts
    574

    Default

    lanjut ya bagus +penasaran

  7. #7
    Honoured Retiree
    Join Date
    Dec 2009
    Location
    Redaksi iTravMagz
    Posts
    1,101

    Default

    Mulai seru, lanjut dong.
    Last edited by Vonum; 10-07-2011 at 11:15 PM. Reason: bener nih gak bisa tulis meme'kakan

  8. #8
    Jihadil's Avatar
    Join Date
    Jul 2011
    Location
    Cilodong, Depok
    Posts
    609

    Default

    tambah seru nih...
    Mencoba mengejar mimpi

  9. #9

    Default

    Quote Originally Posted by guilliano View Post
    mayan lanjutkan
    Quote Originally Posted by guilliano View Post
    lanjut ya bagus +penasaran
    peningkatan kualias komentar
    semoga cerita saya dapat terus menghibur ^^

    Quote Originally Posted by Vonum View Post
    Mulai seru, lanjut dong.
    Quote Originally Posted by Jihadil View Post
    tambah seru nih...
    makasih, sedang dalam tahap pengetikan Chapter 3 kok
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

  10. #10

    Default

    Chapter 3

    Mong mundur perlahan setelah melihat rahang besar tersebut memamerkan taring-taring sepanjang hampir sepuluh senti di hadapannya. Ia menengok ke belakang dan melihat tiga babi hutan itu mengais-ngais tanah dengan kakinya, bersiap menyerang dari belakang. Mong memutar otaknya dengan panik sementara beruang di depannya mulai mendekat perlahan dan membuat suara berdebum yang teredam di setiap langkahnya.

    Jarak beruang tersebut tinggal 5 meter dengannya, tubuhnya yang menjulang tinggi menutupi pemandangan di belakangnya. Induk tersebut mengangkat tangannya ke udara, bersiap untuk membenamkan cakar yang tajam dan tebal tersebut ke tubuh Mong dan dalam waktu sepersekian detik, Mong refleks melompat ke samping untuk menghindari cakaran yang dapat memisahkan nyawa dari tubuhnya itu.

    Darah segar mengalir dari bahu kanannya, induk beruang tersebut terlalu cepat meski ukuran tubuhnya yang besar memberi kesan yang lamban. Mong melihat lukanya tidak terlalu dalam tetapi tidak ada waktu untuk beristirahat baginya, para babi hutan tersebut tengah berlari ke arahnya, bersiap menancapkan taring yang tumbuh dari rahang bawahnya. Ia kembali melompat menghindari serangan-serangan tersebut sementara tangannya masih memegangi anak beruang yang meronta-ronta di kepalanya.

    Aku harus segera melepaskan diri dari situasi ini, tiga sudah cukup buruk dan sekarang bertambah seekor lagi.

    Mong berlari melewati pepohonan menjauhi binatang buas tersebut, di belakangnya satu dari tiga babi hutan sudah menggelepar di lantai hutan setelah beruang tersebut juga menyerangnya. Mong memutuskan ia tidak akan kembali ke arah perkemahan karena bau darahnya pasti akan membawa binatang buas yang lain bersamanya. Tetapi dengan keadaannya sekarang, ia tidak mungkin mengalahkan seekor beruang dewasa yang tengah mengamuk.

    Hampir sepuluh menit ia berlari dan tampaknya ia berhasil menghindari maut meski luka di tangannya berdenyut-denyut mengingatkannya pada rasa panas di bahunya yang mengeluarkan banyak darah. Ia jatuh tersungkur di tanah yang lembut, paru-parunya dan urat kakinya menegang setelah dipaksa berlari tanpa henti. Mong melepaskan genggamannya, alih-alih pergi meninggalkan dirinya anak beruang tersebut duduk dan menjilati luka di bahu manusia tersebut.

    Mong lelah, kepalanya sakit, tubuhnya lemah dan ia memejamkan matanya, kesadarannya pergi perlahan-lahan, meninggalkan dirinya yang menatap dedaunan di tanah dengan pandangan yang buram oleh keringat. Ia pingsan.
    Last edited by MC Mong; 10-09-2011 at 12:34 PM.
    Click the picture to read my fanfict ^^

    Pict made by SoraGFX

Page 1 of 8 123 ... LastLast

Tags for this Thread

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •