Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 13

Thread: [Original Fiction] The World of Calas

  1. #1
    Mrx's Avatar
    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    2,446

    Post [Original Fiction] The World of Calas

    Halo semuanya. Saya member lama di forum ini, jdi mungkin gk ad org yg kenal sama saya. Saya pernah nulis bbrp fanfic, tpi gk pernah sampai tamat.

    Kali ini saya mau bikin cerita fantasi yg original (bukan ttg Travian), semoga bisa menghibur om2 sekalian.

    --------------------------

    THE WORLD OF CALAS


    Prolog

    Namaku Valdarth Croivas.

    Bagi kalian semua yang, entah darimana, menemukan tulisan ini, itu berarti kalian sangat beruntung. Kalian akan segera membaca sebuah kisah epik yang menegangkan dan luar biasa.

    Sebelum aku menceritakan kisahku, kalian semua harus mengerti banyak hal mengenai dunia ini yang bernama Calas. Dulu di Calas, ada dua kerajaan besar yang sama-sama mengikuti Aliran Baik. Kerajaan-kerajaan itu bernama Crovias Guinn dan Crovias Spirev. Semua orang yang mengikuti Aliran Baik memuja Crovias, Sang Pencipta. Croviaslah yang menciptakan segalanya di dunia ini. Manusia, hewan, tumbuhan, Legna (prajurit yang bertugas untuk membantu pekerjaan Crovias) dan Lnatas.

    Lnatas adalah sosok yang dipuja oleh pengikut Aliran Jahat. Konon, Lnatas adalah Legna terkuat di antara para Legna lain. Namun, Lnatas menjadi tinggi hati dan merasa bahwa dia lebih hebat dari Crovias. Karena itu pada saat Lnatas mencoba mengambil takhta Crovias, ia diasingkan jauh ke dalam kegelapan pekat bernama Honrefni. Setengah dari Legna-Legna Crovias memutuskan untuk menjadi prajurit Lnatas dan ikut masuk ke dalam Honferni.

    Sekarang (maksudku dengan "sekarang" adalah waktu dimana aku menulis kalimat ini), Crovias Spirev sudah berubah nama menjadi Lnatas Spirev. Itu berarti ada dua kerajaan besar yang memiliki aliran berbeda dan saling bertentangan. Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa ada orang yang ingin mengikuti Aliran Jahat? Well, aku tidak tahu banyak mengenai hal ini. Aku lahir dalam keluarga yang mengikuti Aliran Baik dan sejak kecil aku diajari hal-hal mengenai Aliran Baik, karena itu aku memutuskan untuk mengikuti Crovias.

    Mungkin hal yang sama terjadi dalam pengikut Aliran Jahat. Dimulai dari sebuah keluarga di Crovias Spirev yang dihasut oleh Lnatas untuk menjadi pengikutnya, lalu menyebar hingga seluruh kerajaan mengikuti Aliran Jahat dan berubah nama menjadi Lnatas Spirev. Namun, beberapa orang berkata bahwa Lnatas lebih kuat dari Crovias. Jadi, jika suatu saat terjadi pertempuran antara Lnatas dan Crovias, Lnatas akan menang dan semua pengikut Aliran Baik akan dibunuh. Tentu saja yang mengatakan hal tersebut adalah para pengikut Aliran Jahat.

    Ups, aku melupakan satu hal lagi. Di Calas, Crovias dan Lnatas memberikan kekuatan spesial yang disebut aura kepada manusia-manusia terpilih yang pastinya adalah pengikut mereka masing-masing. Ada tiga tipe orang yang memiliki aura, yaitu: Dynamer, Kinisor dan Exoder. Dynamer adalah orang-orang yang memiliki kekuatan fisik yang jauh melebihi manusia normal dan juga memiliki kekuatan untuk menyembuhkan luka. Kinisor adalah orang-orang yang mampu mengontrol sebuah benda pilihan mereka dan mengutak-atik benda tersebut. Sebagai contoh, seorang Kinisor dapat membuat pedangnya bertambah panjang hingga mencapai sepuluh meter. Yang terakhir, yaitu Exoder adalah orang-orang yang mampu menembakkan aura mereka dengan sangat bervariasi, seperti mengeluarkan api dari tangan dan semacamnya.

    Itu tadi adalah beberapa hal dasar yang perlu kalian ketahui mengenai dunia Calas ini sebelum membaca kisahku.

    ----------------------------

    Tolong di komen ya!

    Last edited by Mrx; 12-16-2012 at 06:56 PM.
    Tuhan untuk hidup, hidup untuk Tuhan

    ||

  2. #2

    Default

    itu hasil karya agan ya?
    keren tuh, bakat jadi penulis sepertinya
    ditunggu kelanjutan ceritanya

  3. #3
    Mrx's Avatar
    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    2,446

    Default

    Makasih ya untuk komentarnya, haha.

    Mari lanjut ke bab 1.

    --------------------------

    Bab 1 - Pertarungan di Coloundium (1/5)

    Hari ini di Kerajaan Guinn ini, akan menjadi titik balik dalam hidupku. Ini adalah hari dimana aku akan menjalani Aura Test untuk mengetahui kekuatan spesialku. Apakah aku adalah seorang Dynamer, Kinisor, atau Exoder? Jawabannya akan kudapatkan tidak lama lagi. Tidak semua orang memiliki aura, namun itu bukan berarti bahwa Crovias tidak adil. Dia memberikan kekuatan aura kepada orang-orang yang memang cukup kuat untuk menanggung kekuatan tersebut. Perbedaan antara manusia yang memiliki aura dengan yang tidak adalah mereka mempunyai tanda lahir berupa huruf "Cr" (inisial untuk Crovias) di bagian tubuh mereka, bisa dimana saja. Dalam kasusku, tanda itu ada di telapak tangan kiriku. Well, tentu saja pengikut Aliran Jahat yang memiliki aura ditandai dengan huruf "Ln" (inisial untuk Lnatas).

    Tes tersebut akan dilaksanakan di Istana Guinn, jadi aku dan ayahku berjalan ke sana. Jalan dari rumahku ke istana sangatlah ramai. Di sisi kiri dan kanan terdapat banyak gerobak yang menjual berbagai macam buah dan sayur dengan warna yang bervariasi. Aku melihat seorang wanita yang menggunakan kerudung kecil berwarna merah muda, dengan gaun sederhana berwarna putih sedang mengacungkan tangannya sambil berkata bahwa ia ingin membeli dua kilogram sayur westiahc. Langit biru dan bersih dengan beberapa awan kecil membuat kerajaan ini terlihat seperti sebuah desa sederhana yang indah. Semua itu membuatku semakin bersemangat untuk mengetahui auraku.

    Akhirnya kami sampai di gerbang istana yang menjulang tinggi seperti menara, padahal itu hanyalah sebuah gerbang. Ada dua penjaga yang masing-masing berdiri di sisi kiri dan kanan gerbang tersebut.

    "Salam Crovias!" kata seorang penjaga. "Apakah kalian datang ke sini untuk menjalani Aura Test?"

    Ayahku membalas, "Salam Crovias! Ya, aku mengantarkan anakku ke sini. Namaku Dalirius."

    Penjaga yang satu lagi bertanya, "Dalirius apa?"

    "Tentu saja Dalirius Crovias. Semua orang pengikut Aliran Baik pasti bernama belakang 'Crovias' bukan?" balasku.

    "Ya, tentu saja aku tahu hal itu. Hanya ingin memastikan, karena dalam beberapa hari ini kami telah menangkap setidaknya dua puluh orang pengikut Aliran Jahat yang menyusup ke dalam kerajaan ini."

    Akhirnya kami dipersilahkan masuk setelah salah satu penjaga itu membuka gerbang raksasa itu dengan tangan kirinya, ia pastilah seorang Dynamer.

    Kami diantar oleh penjaga lain ke lantai tiga dan dipersilahkan untuk duduk menunggu di sebuah kursi kayu.

    "Tesnya sedang dijalankan di dalam ruangan itu," kata penjaga tersebut sambil menunjuk ke suatu ruangan tertutup. Pintu ruangan itu berwarna emas kehijauan dan aku dapat merasakan aura yang kuat di dalamnya.

    Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya kami dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan itu cukup kecil dengan dinding berwarna putih dan beberapa tanaman hias kecil. Aku melihat Razniel, seorang Exoder tua yang mampu mengetahui aura orang lain. Dialah yang memberikan tes ini, berharap semakin banyak orang di Crovias Guinn ini yang mengetahui dan menguasai aura mereka.

    "Duduklah," Razniel mempersilahkanku. "Biar kulihat, namamu ... Valdarth Crovias?" tanyanya sambil memegang selembar daun axara (daun besar yang dapat digunakan sebagai alas untuk menulis) yang berisi data orang-orang yang akan menjalani Aura Test hari ini.

    "Ya," aku menjawab. Aku memperhatikannya dengan saksama dan menyadari bahwa aura kuat yang kurasakan tadi adalah aura orang tua ini.

    "Peganglah batu ini, lalu alirkanlah auramu ke kedua tanganmu," perintah Razniel. "Jika batu itu hancur, berarti kau adalah seorang Dynamer. Jika batu itu membesar, mengecil, atau berubah bentuk, berarti kau adalah seorang Kinisor. Jika batu itu menjadi panas, berarti kau adalah seorang Exoder."

    Aku langsung melakukan apa yang ia perintahkan, karena aku sudah tidak sabar lagi. Lalu beberapa detik kemudian, batu itu terbelah dua dengan sangat rapi. "Um, bagaimana jika batunya jadi seperti ini?"

    "Dynamer!" seru Razniel dengan cepat seakan ia sudah mempersiapkan kata itu di mulutnya daritadi. Lalu ia melanjutkan, "Biasanya batu abidioc akan hancur menjadi pecahan-pecahan kecil jika orang yang mengenggamnya adalah seorang Dynamer. Namun batu di tanganmu terbelah menjadi dua, ini pertama kali aku melihat kejadian seperti ini. Menarik, sangat menarik."

    "Terima kasih, Razniel. Salam Grovias!" kata ayahku sambil membungkukan badannya. Lalu kami berdua keluar dari ruangan itu. Aku sangat bersemangat, ingin melakukan sesuatu yang biasanya akan dilakukan seorang remaja yang baru mengetahui auranya.

    "Ayah, sekarang aku boleh mendaftarkan diri di pertarungan Coloundium 'kan?"

    "Ya, namun kau tidak boleh memaksakan dirimu jika sudah tidak kuat untuk melanjutkan pertarungan! Oke?"

    "Oke, aku berjanji!" jawabku seraya berlari menjauhi istana menuju Coloundium. Coloundium adalah sebuah arena pertarungan bagi orang-orang yang baru belajar aura dan ingin mengujinya. Tentu saja, salah satu peraturan yang paling jelas di Coloundium adalah tidak boleh membunuh lawan. Aku sangat percaya diri dan langsung masuk ke dalam arena raksasa berbentuk segi delapan tersebut. Karena tidak memiliki atap, aku tetap bisa merasakan sinar matahari yang cerah dan menyegarkan. Aku mendaftarkan diri dan duduk di kursi penonton sambil menunggu namaku dipanggil.

    "Sekarang, untuk pertarungan selanjutnya adalah Wott Crovias melawan Elise Crovias!" kata seorang penjaga mengumumkan.

    "Akhirnya giliranku juga," kata seorang perempuan di sebelahku. Dari penampilan dan ukuran tubuhnya, menurutku perempuan itu sebaya denganku, mungkin ia berumur 17 tahun. Rambutnya yang pendek dan berwarna biru tua mengkilap di bawah sinar matahari.

    Butuh waktu satu detik bagiku untuk menyadari bahwa maksud perempuan itu adalah ia akan segera bertarung.

    "Eeh, kau memiliki aura?" tanyaku dengan cepat. Aku sangat kaget hingga aku merasa bahwa ekspresi wajahku sangat jelek waktu aku mengatakan hal itu.

    "Kau belum pernah melihat seorang Exoder perempuan sebelumnya? Well, kalau begitu selamat menikmati pertunjukkan!" balas perempuan itu seraya tubuhnya menghilang secara perlahan. Maksudku tubuhnya BENAR-BENAR menghilang, mulai dari kaki, lalu terus hingga kepala. Saat aku melihat ke arena, perempuan itu sudah berdiri di sana.

    Hanya satu kata yang keluar dari mulutku, "Wow!"

    ---------------------------

    Selesai juga, haha. Karena udh lama gk nulis cerita, saya butuh waktu 1 stengah jam untuk menulis ini, haha. Tolong di beri komentar ya, hehe.

    Last edited by Mrx; 12-17-2012 at 10:49 AM.
    Tuhan untuk hidup, hidup untuk Tuhan

    ||

  4. #4

    Default

    Hi,

    Its a wonderful site buddy and nice post as well. I really love the info mentioned there and want to get benefited of the whole stuff. Thanks for all... have a nice day
    Dennis

  5. #5
    Mrx's Avatar
    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    2,446

    Default

    Mari kita lanjutkan, haha.

    -------------------

    Bab 1 - Pertarungan di Coloundium (2/5)

    Pertarungan antara Wott Crovias dengan Elise Crovias pun dimulai. Dilihat dari penampilannya, Wott juga sepertinya sebaya denganku, mungkin umurnya 19 atau 20 tahun. Ia memiliki rambut hitam yang berantakan, seperti sarang burung yang benar-benar rusak. Pakaiannya berwarna hijau muda dengan banyak robekan. Dari wajahnya, ia tidak terlihat begitu kuat. Namun pada saat ia mengeluarkan busur panahnya, aku langsung terkesiap. Elise tidak membawa senjata sama sekali, bagaimana cara ia melawannya?

    Secara tiba-tiba, Elise langsung berlari menuju arah Wott dengan kecepatan yang luar biasa dan langsung melancarkan pukulan ke perut dengan menggunakan tangan kirinya. Wott tidak memiliki waktu untuk menggunakan anak panahnya seshingga ia melompat mundur untuk menghindari pukulan. Namun, Wott langsung terpental ke belakang sejauh dua meter dan jatuh terbaring.

    "Critical hit! Tiga poin untuk Elise Crovias," kata juri. Penonton langsung ribut karena kebingungan, begitu juga aku. Aku melihat dengan jelas bahwa Wott berhasil menghindari pukulan itu dengan melompat ke belakang, namun seperti ada pukulan 'tak terlihat yang membuatnya terpental.

    Wott bangun perlahan sambil berkata, "Ternyata seorang Exoder yang cukup menguasai kekuatannya, ya. Kalau begitu, aku tidak keberatan untuk menunjukkan seluruh kekuatanku."

    Wott mengambil sebuah anak panah dan menembakkannya ke arah Elise, namun dengan cepat peremuan itu menghindar dan sekali lagi berlari dengan cepat ke arah Wott. Saat ia akan melancarkan pukulan lagi, tiba-tiba anak panah yang barusan ia hindari berbalik arah dengan cepat dan melukai kakinya sehingga ia jatuh terduduk. Woott mengambil kesempatan itu untuk melancarkan tendangan, namun Elise meghindar ke belakang.

    "Clear hit! Satu poin untuk Wott Crovias," kata juri. Penonton langsung ricuh lagi, terkesima dengan pertarungan yang seru.

    "Dan ternyata kau adalah seorang Kinisor yang handal mengendalikan anak anahmu," kata Elise. "Kalau begini, aku juga tidak akan main-main."

    Tiba-tiba, tubuh Elise mulai menghilang seperti pada saat ia berbicara denganku tadi. Namun kali ini, tubuhnya menghilang dengan lebih cepat. Ekspresi wajah Wott langsung berubah serius dan menembakkan anak panah ke arahnya. Anak panah itu melesat tepat setelah tubuh Elise hilang sepenuhnya.

    Aku benar-benar kagum dengan kekuatan mereka berdua. Wott yang adalah seorang Kinisor bisa mengendalikan anak panahnya. Elise yang adalah seorang Exoder bisa berlari cepat dengan cara mengumpulkan aura ke kakinya. Lalu ia juga bisa memukul orang walaupun serangannya berhasil dihindari, menghilang dan berpindah tempat yang pasti juga menggunakan aura, namun aku tidak tahu bagaimana caranya.

    Elise muncul di belakang Wott secara mendadak dan sekali lagi melancarkan pukulan dengan tangan kirinya ke punggung Wott. Dengan sigap, Wott menghindari ke samping dan ... ia tidak terpental seperti sebelumnya.

    "Oh, jadi begitu ternyata caramu menembakkan aura, hebat," kata Wott dengan nada bicara yang terdengar sedikit sombong. "Sayangnya, aku sudah mengetahui rahasia di balik trik itu."

    Elise tersenyum kecil dan membalas, "Memang kau sudah tahu bagaimana pukulanku bekerja, namun akapah kau sudah mengetahui sesmuanya?"

    Tiba-tiba Wott terpental lagi sejauh dua meter, persis seperti serangan pertama yang ia terima.

    "Critical hit! Tiga poin untuk Elise Crovias," kara juri itu lagi. "Elise Crovias telah mengumpulkan enam poin, karena itu pemenangya adalah Elise Crovias."

    Penonton langsung bersorak meneriakkan nama Elise, entah karena kagum, kaget, 'tak percaya, atau apapun. Perempuan itu memang hebat, aku harus berhati-hati jika suatu saat dia yang menjadi lawan tandingku.

    Wott yang sudah kalah berusaha berdiri, lalu bertanya, "Ugh, bagaimana kau melakukannya?"

    "Sebenarnya cukup sederhana," jawab Elise. "Pada pukulanku yang pertama, aku memukul dengan tangan kiri. Namun sebernarnya aku menembakkan aura dengan tangan itu pada saat yang bersamaan. Jadi walaupun kau menghindar ke belakang, kau tetap terkena tembakkan auraku itu."

    ""Aku sudah tahu itu," seru Wott. "Tapi bagaimana dengan pukulanmu yang kedua? Aku menghindar ke samping, sehingga seharusnya aku juga menghindari tembakkan auramu karena tembakan auramu pasti searah dengan pukulanmu."

    "Well, pada saat tembakkan auraku tidak mengenaimu, aku mengubah arahnya, membelokannya sehingga aura tersebut berputar dan memukul perutmu. Sama seperti caramu membelokkan anak panahmu," jawab Elise.

    "Oh, jadi kau juga adalah seorang Kinisor. Namun yang kau kendalikan bukanlah sebuah benda melainkan aurau sendiri. Apa aku benar?"

    Elise tersenyum dan membalas, "Yap, kau benar. Aku adalah seorang Exoder, namun aku juga mempelajari Kinisor."

    Akhirnya mereka berdua mengobrol sambil berjalan naik ke bangku penonton, ke arahku. AKu pura-pura mengalihkan pandangan.

    Saat Elise kembali duduk di sampingku, ia berkata, "Bagaimana? Sebagai seorang perempuan, aku hebat 'kan?"

    Sulit bagiku untuk mengatakan kalimat itu, namun pada akhirnya aku mengatakannya juga. "Yah, bolehlah."

    Lalu Elise dan Wott tertawa bersama. Aku kagum dengan bagaimana mereka berdua bisa langsung menjadi akrab melalui sebuah pertarungan. Itu membuatku semakin bersemangat, ingin segera bertarung.

    "Pertarungan berikutnya adalah Valdarth Crovias melawan Humpprey Crovias," juri mengumumkan.

    Aku melambaikan tangan kepada Elise dan Wott dan berjalan turun ke arena. Dalam perjalanan itu, aku baru menyadari sesuatu. Sesuatu yang seharusnya aku sadari lebih dulu sebelum aku masuk ke arena ini. Kalian tahu apa itu? Aku baru sadar bahwa aku BELUM SAMA SEKALI berlatih dengan kekuatanku. Ini benar-benar masalah yang besar. Kepercayaandiriku yang tadi langsung terganti dengan kebingungan dan ketakutan. Well, aku bisa saja mengatakan kepada juri bahwa aku menyerah atau mengundurkan diri dan kembali ke arena ini lagi besok. Namun itu pasti sangat memalukan. Lagipula, Elise dan Wott sedang menonton, aku tidak boleh mempermalukan diriku.

    Saat aku sampai di arena, aku mencoba mengingat-ingat apa yang ayahku pernah katakan mengenai bagaimana cara mengeluarkan kekuatan seorang Dynamer. Untungnya, aku langsung ingat sesuatu. Ayahku pernah berkata bahwa setelah menjalani Aura Test, kekuatan seorang Dynamer dapat dilihat dengan cara mengumpulkan aura ke seluruh tubuh. Ya, hanya itulah peluangku.

    Pertarunganku dengan seorang kakek-kakek bernama Humpprey pun dimulai. Walaupun sudah tua, ia tidak bungkuk, memiliki tubuh yang besar dan kekar dengan otot-otot besar. Tidak perlu diragukan lagi, ia pasti seorang Dynamer juga.

    "Rupanya lawanku adalah orang baru. Aku hanya perlu menggunakan dua puluh persen dari kekuatanku kalau begitu, hahaha," si kakek tua jelek itu tertawa terbahak-bahak. Aku tidak membalasnya, aku sedang memfokuskan auraku ke seluruh tubuhku.

    Tiba-tiba, tangan kanan kakek itu membesar menjadi besar sekali. Well, Mungkin beberapa dari kalian belum mendapatkan gambarannya, jadi bayangkanlah seperti ini: Tangan kakek itu berotot dan besar. Nah, sekarang tangannya bertambah besar lagi, menjadi terlihat tidak sesuai dengan bagian tubuhnya yang lain. Saat ia melancarkan pukulan dengan tangan raksasa itu, secara reflek, aku menangkisnya dengan tangan kiriku.

    Pukulannya sangat bertenaga hingga membuatku terpental sekitar lima meter. Namun, yang mengejutkan adalah aku tidak terjatuh dan tangan kiriku tidak terluka sama sekali. Memang terasa sedikit sakit, namun tidak ada luka sedikitpun. Juri tidak mengatakan clear hit maupun critical hit, itu artinya pukulannya tidak melukaiku.

    Mulut kakek itu terbuka lebar, sepertinya cukup lebar untuk memasukkan tangannya sendiri ke dalamnya.

    Kepercayaandiriku langsung membara sehingga membuat aku berkata, "Maaf, apa kakek sudah makan tadi pagi? Sepertinya kakek kekurangan tenaga."

    "Cih, diam kau dasar Dynamer kecil. Kau hanya beruntung karena memiliki pertahanan yang kuat sekalipun kau baru mengetahui auramu. Kalau begitu, aku akan menggunakan lima puluh persen kekuatan!" balasnya sambil membungkukkan tubuhnya perlahan-lahan.

    Tiba-tiba arena menjadi bergetar. Batu-batu yang ada di sekitar kakek tua itu melayang-layang dan terpental. Wajah kakek itu menjadi sangat merah. Aku benar-benar tidak beruntung hari ini karena mendapat lawan seorang tua yang sudah berpengalaman.

    Aku mengumpulkan auraku lagi ke seluruh tubuhku dan berpikir bagaimana cara mengalahkan Dynamer tua ini.

    -----------------------

    Selesai hehe. Tolong minta komentarnya ya.

    Last edited by Mrx; 12-17-2012 at 10:44 PM.
    Tuhan untuk hidup, hidup untuk Tuhan

    ||

  6. #6
    Mrx's Avatar
    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    2,446

    Default

    Waduh, blum ad yg komen ya? Tapi cerita ini hrus tetep saya lanjutkan!

    ----------------------

    Bab 1 - Pertarungan di Coloundium (3/5)

    Wajah kakek itu bertambah merah, arena terasa semakin panas dan tidak ada suara sedikitpun dari bangku penonton, benar-benar menegangkan. Tanah di tempat kakek itu berpijak retak dan hancur secara perlahan. Lalu dengan satu teriakan keras, kakek itu berlari ke arahku dengan kecepatan penuh, jauh lebih cepat daripada Elise. Aku tidak punya waktu untuk menghindar, jadi aku harus menangkisnya dengan tangan kiriku. Saat ia memukul tangan kiriku, aku terpental sangat jauh hingga menabrak tembok di ujung arena. Aku terjatuh lemas, tangan kiriku memar dan berasap.

    "Critical hit! Tiga poin untuk Humpprey Crovias," kata juri. Lalu, melihat aku terjatuh dan tidak bangkit lagi, juri itu melanjutkan, "Jika Valdarth Crovias tidak bisa melanjutkan pertandingan, maka Humpprey Crovias akan menang K.O."

    Kakek Humpprey itu terenyum kecil dan berkata, "Ia tidak akan bisa melanjutkan pertandingan, juri. Selama ini, semua orang yang telah menerima serangan Mega Hyper Ultra Ultro Punchku tidak bisa bangkit lagi. Ada yang pingsan, ada yang mengalami patah tulang dan ada yang langsung menyerah. Tentu saja jika aku menggunakan seratus peren kekuatan, orang itu pasti akan mati. Namun, peraturan arena ini tidak memperbolehkan petarung membunuh lawannya, bukan?"

    "Kalau begitu," kataku sambil berdiri perlahan-lahan, "aku akan menjadi orang pertama yang bangkit setelah pukulanmu itu!"

    Penonton langsung ricuh, ada yang berteriak-teriak mendukungku, ada juga yang mendukung kakek tua itu. Tubuhku lemas, tetapi entah mengapa aku masih bisa berdiri, mungkin karena pertahanan Dynamerku kuat. Jika saja aku berlatih dahulu sebelum datang ke sini, aku pasti tidak akan mengalami cedera separah ini. Sekarang, aku harus menyerangnya dan mendapatkan poin. Aku tidak mungkin membuatnya pingsan, karena itu aku harus mendapatkan enam poin sebelum dia, atau paling tidak mengumpulkan poin lebih banyak darinya sebelum time up.

    "Apa? Ini ... ini tidak mungkin, tidak mungkin!" kakek itu terlihat bingung dan sedikit ketakukan. Apa yang membuatnya ketakutan? Maksudku, ia sudah jelas jauh lebih unggul dariku, seharusnya ia tinggal memukulku beberapa kali lagi dan ia akan menang. Pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.

    Lalu aku langsung menyadari sesuatu. Sekujur tubuh kakek itu berkeringat dan nafasnya menjadi cepat dan berat, ia pasti sangat kelelahan setelah menggunakan pukulan Mega Hyper Ultramilk Ultraman, entah apa nama pukulan itu. Aku harus menyerangnya sekarang juga sebelum tenaganya kembali.

    Aku berlari ke arahnya dan tanpa mempedulikan sakit di tangan kiriku, aku mencoba memukul wajahnya dengan tangan kananku. ia menghindar, namun gerakannya tidak cepat. Aku melayangkan pukulan terus-menerus dengan membabi-buta dan saat ia lengah, aku memukul wajahnya dan ia terhempas mundur sejauh satu meter. Aku cukup kaget dengan pukulanku itu.

    "Clean hit pada kepala! Dua poin untuk Valdarth Croivas."

    Aku langsung menyerangnya lagi, berusaha mendapatkan poin lebih sebelum tenaganya kembali. Kali ini aku melakukan tendangan samping dengan kaki kanan ke perutnya, namun ia menangkisnya dengan tangan kirinya. Tendanganku tidak sekuat pukulan tangan kananku tadi, jadi aku menyimpulkan bahwa serangan terkuatku adalah tangan kananku. Dengan cepat, aku mundur sedikit dan memukul tanah. Itu membuat tanah tempat kakek itu berpijak retak dan ia jadi hilang keseimbangan. Aku menggunakan kesempatan itu untuk memukul perutnya dengan sekuat tenaga. kali ini kakek itu terpental sejauh tiga meter dan terjatuh.

    "Critical hit! Tiga poin untuk Valdarth Croivas," kata juri. Dengan ini aku telah mengumpulkan lima poin. Saat aku berpikir untuk menyerangnya lagi untuk mendapatkan enam poin dan menang, aku mendengar suara tawa.

    "Hahaha," kakek itu tertawa kecil. "Kau hebat, bocah. Sebagai orang baru, kau bisa bertahan dari Mega Hyper Ultra Ultri, eh bukan, Mega Hyper Ultra Ultro Punchku. Namun sekarang tenagaku sudah kembali. Aku akan melancarkan pukulan mautku itu lagi dan menang, hahahaha."

    Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku tidak mungkin menangkis pukulannya itu maupun menghindarinya. Selain itu, tangan kiriku semakin sakit dan memarnya semakin besar.

    "Sekarang, rasakan ini!" kakek itu mengumumkan. "MEGA HYPER ULTR---"

    "Time up!" kata juri memotong. "Waktu sudah habis dan Valdarth Crovias mengumpulkan poin terbanyak. Karena itu, pemenangnya adalah Valdarth Crovias."

    "Apaaaaaa?" seru kakek Humpprey. Wajahnya langsung lesu dan ia berjalan perlahan ke bangku penonton seperti kehilangan niat untuk hidup.

    Aku juga kembali ke kursi penonton dan Elise dan Wott memujiku.

    "Wah, kau hebat juga ya bisa mengalahkan Dynamer yang sudah berpengalaman," kata Elise dengan senyumnya yang manis. Eeh, maksudku semua wanita juga bisa tersenyum manis 'kan?

    "Iya, aku jadi takut jika suatu saat harus melawanmu," tambah Wott.

    Di saat kami bertiga sedang berbicara dan tertawa bersama, juri mengatakan hal yang membuatku tidak enak. Kalian tahu apa itu? Juri mengatakan bahwa pertarungan selanjutnya adalah antara aku melawan Elise.

    ---------------------------

    Monggo, silahkan dikomentari!

    Tuhan untuk hidup, hidup untuk Tuhan

    ||

  7. #7
    Mrx's Avatar
    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    2,446

    Default

    Lanjut!

    --------------------

    Bab 1 - Pertarungan di Coloundium (4/5)

    Mendengar itu, Elise berkata, "Wah, pertarungan ini pasti akan sangat seru, ahahaha. Tenang saja Valdarth, aku tidak akan menggunakan seluruh kekuatanku, sama seperti yang Humpprey Croivas lakukan."

    "Apa? Maksudmu, kakek tua itu tidak bersungguh-sungguh saat melawanku?" tanyaku.

    "Yah tentu saja tidak," jawabnya. "Kami Veteran tidak mungkin serius saat melawan kalian, karena tugas kami adalah..." tiba-tiba perkataannya terhenti. Ekspresi wajahnya berubah, seakan ia baru saja mengatakan sesuatu yang salah.

    Melihat hal itu aku langsung bertanya, "Veteran? Apa maksudmu?"

    Belum sempat Elise menjawab, penonton meneriaki kami, menyuruh kami agar segera turun ke arena dan memulai pertarungan. Aku menatap Elise dan ia menatapku. "Akan kujelaskan nanti, setelah pertarungan kita selesai," katanya sambil tersenyum.

    Tiba-tiba Wott menyela percakapan kami, "Hey, benda apa itu?" tanyanya sambil menunjuk ke langit. Saat aku menengok ke arah itu, aku melihat sekumpulan benda yang terlihat seperti awan dan berwarna hitam. Benda itu sedang menggarah ke sini dengan kecepatan tinggi. Kerumunan penonton langsung ricuh, sepertinya mereka tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Sebagian besar langsung berlari dan mengarah ke pintu keluar.

    "Tidak mungkin, mereka datang lagi," kata juri yang daritadi mengawasi pertarungan kami. lalu juri itu mengangguk ke arah Elise, seperti memberikan suatu kode.

    Aku yang bingung dan cukup panik bertanya, "Elise, apa yang sebenarnya sedang terjadi?"

    Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba aku melihat sinar yang terang, sangat terang hingga membuat mataku kesakitan. Tidak lama setelah itu, yang kulihat hanyalah kegelapan. Aku pingsan.

    Saat aku membuka mataku, orang pertama yang kulihat adalah Elise. Lalu aku melihat sekeliling untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pengelihatanku masih belum pulih, jadi yang bisa kulihat selain Elise adalah seluruh arena seperti ditutup oleh sesuatu berwarna ungu, aku tidak yakin apa itu.

    "Valdarth, kau sudah sadar," kata Wott yang datang dan membungkuk ke arahku. "Kau tidak akan percaya apa yang tadi terjadi. Sebaiknya kau bangun dan lihat sendiri."

    Aku mengarahkan pandangan ke arena dan melihat seorang lelaki bertubuh besar yang mengenakan celana pendek hitam dan bertelanjang dada. rambutnya yang panjang dan berwarna hitam sangat berantakan. Pada wajahnya terdapat bekas luka sayatan pedang. Ia memegang sebuah kapak bermata dua yang sangat besar dan terlihat berat.

    Tiba-tiba aku menyadari sesuatu. "Tidak mungkin! Jangan-jangan ini adalah ..." aku menghentikan perkataanku.

    "Kau benar," balas Elise. "Mereka datang lagi untuk yang ketiga kalinya. Tidak kusangka mereka akan datang di saat seperti ini."

    Ayahku pernah menceritakan hal ini padaku. Jadi, sekitar lima puluh tahun yang lalu, Kerajaan Lnatas Spirev mengirimkan sepuluh pengguna aura terkuat bernama Theorr ke arena di Kerajaan Croivas Guinn untuk menantang siapapun yang ingin melawan mereka, pertarungan satu lawan satu sampai mati. Arena ditutupi oleh semacam aura yang sangat kuat sehingga tidak ada yang bisa kabur sebelum salah satu petarung mati. Pada hari itu, ada sepuluh pengguna aura terkuat bernama Veteran di kerajaan ini yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk melawan Theorr. Pada akhirnya dari sepuluh petarung, tujuh Veteran menang. Dua puluh lima tahun kemudian, Theorr datang lagi dan kali itu mereka menang karena berhasil membunuh sembilan orang Veteran, hanya seorang Veteran yang berhasil memenangkan pertarungannya.

    "Mari kita mulai!" kata seorang Theorr yang berdiri di arena. "Para Theorr yang lain sedang sibuk, jadi mereka akan menyusul. Sekarang, siapa yang ingin menjadi lawanku?" katanya dengan nada sombong.

    "Tunggu. Kalau begitu, awan hitam tadi, dan sinar terang tadi itu adalah perbuatan Theorr itu sendiri?" tanyaku kepada Elise.

    "Ya, ia adalah Theorr baru. Dua puluh lima tahun yang lalu, Veteran kalah telak. Theorr hanya kehilangan satu anggota, jadi orang ini menggantikannya," jelas Elise.

    "Kenapa kau bisa tahu hal itu? Itu 'kan terjadi dua puluh lima tahun yang lalu, kau bahkan belum lahir pada saat itu," tanyaku kebingungan.

    "Ahahaha, baiklah, aku akan menjelaskanmu." Tiba-tiba tubuh Elise berasap dan aura biru keluar lalu membentuk sosok seorang wanita yang terlihat cukup berumur. "Namaku Sally Croivas, Elise adalah anakku. Sebagai seorang Exoder, aku bisa menyatukan aura dengan tubuhku dan membuatku bisa memasuki tubuh orang lain. Aku tidak mempelajari kekuatan Kinisor, namun karena Elise adalah seorang Kinisor, saat aku masuk ke tubuhnya dan mengontrolnya, aku bisa menggunakan kekuatan Kinisor juga.

    Aku terlalu kaget dan bingung untuk mengatakan sesuatu. Namun dengan seluruh kekuatanku, aku berhasil mengatakan sebuah kata, "Oh."

    Elise dan ibunya lalu tersenyum bersama, senyum yang benar-benar mirip.

    "Akulah yang akan menjadi lawan pertama dan terakhirmu, karena aku akan mengalahkanmu!" kata seseorang di belakakang arena. Aura ungu yang menyelimuti arena menghilang. Saat orang itu masuk, auranya menebal kembali. Ternyata ia adalah juri di arena ini.

    "Jadi, juri itu adalah salah seorang Veteran yang terpilih? Dan, apakah kau juga adalah Veteran?" aku bertanya lagi kepada Sally.

    "Ya. Raja Guinnlah yang memilih kami karena ia merasa bahwa kami adalah salah satu dari sepuluh pengguna aura terkuat di kerajaan ini untuk saat ini," jawabnya.

    Dalam pertarungan antara Theorr melawan Veteran, orang-orang yang sudah ada di arena tidak bisa keluar karena seluruh Coloundium pun ditutupi oleh aura ungu itu.

    "Aku, Ozug Lnatas akan mengalahkanmu dan semua veteran di kerajaan ini dan Theorr akan kembali menang seperti dua puluh lima tahun yang lalu, hahaha."

    "Huh, merepotkan!" kata juri itu. "Namaku Quiks Croivas, dan aku akan mengalahkanmu secepat mungkin."

    Pertarungan pun dimulai. Ozug langsung memindahkan kapaknya ke tangan kiri, lalu membuka telapak tangan kanannya. Sebuah sinar biru muncul dari tangannya, itu adalah petir. Itu berarti orang ini adalah Exoder yang bisa membuat auranya seperti petir. Padahal, dengan tubuh yang besar itu, aku mengira bahwa ia adalah seorang Dynamer.

    Ozug melemparkan bola petir itu ke arah Quiks. Ia harus menangkisnya, karena tidak mungkin ia bisa menghindari petir yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Bola petir itu mengenainya dan meledak, menimbulkan asap yang cukup besar. Saat asap mulai menipis, aku melihat Quiks terkapar di tanah, tidak bergerak sama sekali.

    ------------------

    Last edited by Mrx; 12-26-2012 at 09:00 PM.
    Tuhan untuk hidup, hidup untuk Tuhan

    ||

  8. #8
    Honoured Retiree
    Join Date
    Dec 2009
    Location
    Redaksi iTravMagz
    Posts
    1,101

    Default

    Wah, legenda fanfic kembali! Lanjutkan terus sampai tamat

    Komentar menyusul ya.. mau makan dulu..

  9. #9
    Mrx's Avatar
    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    2,446

    Default

    Maaf ya, udah agak lama saya gk update cerita ini. Kali ini, mari kita lanjutkan!

    -------------------------

    Bab 1 - Pertarungan di Coloundium (5/5)

    "Satu sudah jatuh, siapa selanjutnya?" kata Ozug sambil memindah-mindahkan kapaknya ke tangan kiri dan kanannya.

    Melihat hal itu, aku bergetar ketakutan. Bagaimana mungkin ia membunuh seorang Veteran dengan satu kali serang? kalau seorang Theorr memiliki kekuatan sehebat itu, bagaimana dengan Theorr yang lainnya? Bagaimana kami bisa mengalahkan Kerajaan Lnatas Spirev?

    "Tadi itu cukup menggelitik juga, Ozug," tiba-tiba terdengar seseorang berkata demikian. Ternyata itu adalah suara Quiks yang sudah berdiri. Seluruh tubuhnya berasap, namun di samping itu ia kelihatan baik-baik saja.

    Ekspresi wajah Ozug langsung serius, kurasa ia langsung tahu bahwa Quiks bukanlah orang sembarangan. "Jadi, tadi kau tidak bergerak bukan karena kau mati, tapi kau lumpuh sejenak karena petirku. Apa aku benar?"

    "Yap. Petirmu tadi tidak melukaiku, sedikitpun," balas Quiks sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya.

    "Kalau begitu, Quiks adalah seorang Dynamer, bukan?" tanyaku kepada Sally.

    Ibu dari Elise itu menjawab, "Tidak sepenuhnya benar. Quiks Croivas adalah seorang Kinisor, namun ia mempelajari teknik Dynamer. Sebagai Kinisor, tidak mungkin ia bisa mempelajari Dynamer dengan sempurna. Karena itu ia hanya mempelajari Dynamer untuk pertahanan tubuhnya."

    Quiks menggenggam pedang dua meternya dengan kedua tangan. Lalu, ia melakukan gerakan menebas ke arah Ozug, padahal jarak mereka masih sangat jauh. Tiba-tiba, pedangnya memanjang dengan cepat dan sesaat sebelum pedang itu menebas perut kiri Ozug, Theorr itu menahan pedang tersebut dengan kapaknya.

    "Gerakanmu cukup cepat, atau mungkin kau sudah mengantisipasi bahwa aku dapat memanjangkan pedangku?" tanya Quiks.

    "Analisis yang hebat," balas Ozug. "Namun kau tetap bukan tandinganku!" katanya.

    Tiba-tiba kapak milik Ozug yang masih bersentuhan dengan pedang Quiks mengeluarkan sinar biru seperti petir, lalu petir itu menjalar ke pedang tersebut. Quiks dengan cepat melepaskan pedangnya agar petir itu tidak mengenainya. Lalu Quiks mengambil pedangnya itu lagi dan dengan cepat menyerang Ozug dengan membabi-buta. Pedangnya terus memanjang dan memendek, berusaha membuat Ozug bingung.

    "Hebat!" seruku. "Kalau Quiks terus menyerang seperti ini, pasti Ozug akan lengah dan pedang Quiks akan membelahnya."

    "Ya, kau benar," kata Elise. "Melihatnya melemparkan bola petir dan menyalurkan petir ke kapaknya, ia pasti adalah seorang Exoder yang mempelajari Kinisor, atau sebaliknya. Itu berarti ia bukanlah seorang Dynamer. Satu tebasan pedang Quiks pasti akan memberikan luka yang parah. Ini pertama kalinya aku setuju denganmu, Valdarth."

    "Hey, apa maksudmu?" balasku. Sebelum aku melanjutkan perkataanku, terdengar ledakan yang sangat besar di arena. Seluruh arena tertutupi oleh asap yang sangat tebal. Apa yang sebenarnya terjadi?

    [pending]

    ---------------------------

    Bagian ini pending dulu ya, saya cari ide dulu biar pertarungan ini jadi epik, hha.

    Tuhan untuk hidup, hidup untuk Tuhan

    ||

  10. #10
    Mrx's Avatar
    Join Date
    Mar 2009
    Location
    Indonesia
    Posts
    2,446

    Default

    Halo teman2. Setelah sekian lama akhirnya saya memiliki keinginan untuk lanjutin cerita ini lagi, hha.

    -------------------

    Bab 1 - Pertarungan di Coloundium (5/5)

    "Satu sudah jatuh, siapa selanjutnya?" kata Ozug sambil memindah-mindahkan kapaknya ke tangan kiri dan kanannya.

    Melihat hal itu, aku bergetar ketakutan. Bagaimana mungkin ia membunuh seorang Veteran dengan satu kali serang? kalau seorang Theorr memiliki kekuatan sehebat itu, bagaimana dengan Theorr yang lainnya? Bagaimana kami bisa mengalahkan Kerajaan Lnatas Spirev?

    "Tadi itu cukup menggelitik juga, Ozug," tiba-tiba terdengar seseorang berkata demikian. Ternyata itu adalah suara Quiks yang sudah berdiri. Seluruh tubuhnya berasap, namun di samping itu ia kelihatan baik-baik saja.

    Ekspresi wajah Ozug langsung serius, kurasa ia langsung tahu bahwa Quiks bukanlah orang sembarangan. "Jadi, tadi kau tidak bergerak bukan karena kau mati, tapi kau lumpuh sejenak karena petirku. Apa aku benar?"

    "Yap. Petirmu tadi tidak melukaiku, sedikitpun," balas Quiks sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya.

    "Kalau begitu, Quiks adalah seorang Dynamer, bukan?" tanyaku kepada Sally.

    Ibu dari Elise itu menjawab, "Tidak sepenuhnya benar. Quiks Croivas adalah seorang Kinisor, namun ia mempelajari teknik Dynamer. Sebagai Kinisor, tidak mungkin ia bisa mempelajari Dynamer dengan sempurna. Karena itu ia hanya mempelajari Dynamer untuk pertahanan tubuhnya."

    Quiks menggenggam pedang dua meternya dengan kedua tangan. Lalu, ia melakukan gerakan menebas ke arah Ozug, padahal jarak mereka masih sangat jauh. Tiba-tiba, pedangnya memanjang dengan cepat dan sesaat sebelum pedang itu menebas perut kiri Ozug, Theorr itu menahan pedang tersebut dengan kapaknya.

    "Gerakanmu cukup cepat, atau mungkin kau sudah mengantisipasi bahwa aku dapat memanjangkan pedangku?" tanya Quiks.

    "Analisis yang hebat," balas Ozug. "Namun kau tetap bukan tandinganku!" katanya.

    Tiba-tiba kapak milik Ozug yang masih bersentuhan dengan pedang Quiks mengeluarkan sinar biru seperti petir, lalu petir itu menjalar ke pedang tersebut. Quiks dengan cepat melepaskan pedangnya agar petir itu tidak mengenainya. Lalu Quiks mengambil pedangnya itu lagi dan dengan cepat menyerang Ozug dengan membabi-buta. Pedangnya terus memanjang dan memendek, berusaha membuat Ozug bingung.

    "Hebat!" seruku. "Kalau Quiks terus menyerang seperti ini, pasti Ozug akan lengah dan pedang Quiks akan membelahnya."

    "Ya, kau benar," kata Elise. "Melihatnya melemparkan bola petir dan menyalurkan petir ke kapaknya, ia pasti adalah seorang Exoder yang mempelajari Kinisor, atau sebaliknya. Itu berarti ia bukanlah seorang Dynamer. Satu tebasan pedang Quiks pasti akan memberikan luka yang parah. Ini pertama kalinya aku setuju denganmu, Valdarth."

    "Hey, apa maksudmu?" balasku. Sebelum aku melanjutkan perkataanku, terdengar ledakan yang sangat besar di arena. Seluruh arena tertutupi oleh asap yang sangat tebal. Apa yang sebenarnya terjadi?

    Saat asap menipis, aku melihat seekor ular di antara Quiks dan Ozug. Ular itu menatap Ozug dan berkata, "Ozug Lnatas, Theorr of Lightning, aku memerintahkanmu untuk kembali ke kerajaan sekarang! Kita akan menunda pertarungan antara Veteran dan Theorr untuk sementara waktu."

    Aku berkata kepada Sally, "Suara itu, jangan-jangan ..."

    "Ya, itu adalah suara Raja Spirev, raja Kerajaan Lnatas Spirev," balas Sally. "Informasi yang sejauh ini kita ketahui mengenai kekuatannya adalah bahwa ia adalah seorang Exoder yang bisa membentuk ular dengan menggunakan aura."

    "Baiklah, jika itu adalah perintahmu," jawab Ozug. Lalu, ular itu mendekatinya perlahan, membuka mulutnya lebar-lebar dan dengan cepat menyambar Ozug dan ... menelannya. Setelah itu ular itu berubah menjadi asap hitam dan menghilang. Mereka telah berteleportasi ke Kerajaan Lnatas Spirev.

    Kejadian yang menegangkan sudah berakhir, paling tidak untuk hari ini. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan kerajaan itu selanjutnya.

    Quiks menarik nafas panjang, lega karena ketegangan sudah lewat. Lalu ia menengadah ke arah bangku penonton dan berseru, "Maaf, kami para Veteran sudah melibatkan kalian dalam masalah ini. Itu semua adalah karena kami tidak tahu kapan para Theorr akan datang ke arena. Untuk sementara waktu, aku akan menutup Coloundium ini karena satu dan lain hal. Sekarang, mari kita kembali ke aktivitas kita masing-masing."

    "Kami para Veteran harus memberitahu Raja Guinn mengenai hal ini!" kata Sally dengan tiba-tiba. "Valdarth, Wott, dan Elise. Kalian juga akan ikut ke istana. Oke?"

    Akhirnya aku, Wott, Elise, Sally, Humpprey, Quiks, dan ketujuh Veteran lainnya berjalan meninggalkan Coloundium menuju istana. Saat kami sudah cukup dekat, terlihat cahaya keemasan dari dalam istana. Aku merasakan aura yang sangat kuat yang berasal dari raja kami, Raja Guinn.

    ---------------------------------

    Silahkan dinikmati!

    Last edited by Mrx; 03-11-2013 at 07:30 PM.
    Tuhan untuk hidup, hidup untuk Tuhan

    ||

Page 1 of 2 12 LastLast

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •