Page 8 of 8 FirstFirst ... 678
Results 71 to 74 of 74

Thread: [Mix - Original Fiction] DRAXLER – YANG BERDIRI TERAKHIR

  1. #71
    Zic de Zed's Avatar
    Join Date
    Feb 2012
    Location
    Medan - Semarang
    Posts
    373

    Default Chapter 9

    CHAPTER 9 : Mereka yang Mengincar Tahta


    Dua hari sebelum rapat dewan, Wilayah kekuasaan kerajaan Chandrane.
    Malam hari, Ibukota Langit kedua, kota Lunus, pulau Viskryet.


    Bulan masih menyisakan lengkungan ke dalam yang membuat bentuknya belum bulat sempurna. Menyerupai perisai Paladin yang sejatinya merupakan perisai kerajaan Chandrane, bentuk penghormatan bangsa Chandrane pada dewa Moncdun mereka, sang Bulan.

    Kota Lunus adalah satu-satunya ibukota kerajaan yang dikelilingi oleh perairan, laut Monc mereka menyebutnya. Tak ada yang tahu kemana air yang jatuh dari pulau Viskryet berakhir, begitu pula asal air itu yang tak mungkin hanya sekedar curahan hujan yang tertampung. Rakyat Chandrane mempercayai, Moncdun punya kuasa akan ini.

    Wilayah Utara kota Lunus merupakan dataran tinggi dengan tebing-tebing curam berbataskan laut Monc-nya. Sedangkan wilayah Selatannya yang jauh lebih landai digunakan sebagai pelabuhan dagang.

    Kastil walikota berdiri kokoh di tanah paling ujung di Utara, tepat di bibir sebuah tebing curam. Ratusan warga memadati tanah kosong yang sangat luas di depannya, menanti eksekusi pertama dalam setahun.

    Di bagian kanan Kastil, berdiri dua panggung di tepian tebing. Panggung yang berukuran lebih kecil diperuntukkan untuk eksekusi, pemuda Barbar yang merusak kedamaian Kota Lunus berlutut dengan kedua tangan menyilang di atas dada dililit raintai besi. Pedang dari dua orang prajurit penjaga menempel dilehernya, siap untuk ditebaskan. Seorang hakim dengan kitab suci Chandrane yang didekapkan di dadanya berdiri di belakang pemuda Barbar ini.

    Sementara Dirgantetar yang membawanya tadi siang berada bersama para pejabat kota di panggung lain yang lebih dekat ke kastil. Ia berdiri tegak di dekat tangga sembari memegangi sebuah obor di tangan kanannya.

    “Bakar saja langsung barbar penunggang Tigrion itu!”teriak seseorang ketus, yang diiringi sahutan tanda setuju dari warga yang lain.

    Warga mulai melempari lagi pemuda dari suku barbar yang sudah tertunduk lesu itu, beberapa lemparan mulai meleset mengenai hakim dan prajurit penjaganya.

    “Tok tok tok!”Olejagn, Walikota Lunus mengalihkan perhatian dengan ketukan ujung tongkatnya yang dihentakkan ke lantai panggung.

    Semua warga langsung terdiam mematuhi, mereka menyadari tongkat yang digenggam Olejagn itu bukan sembarang tongkat. Melainkan tongkat obor, salah satu rune kuno miliki bangsa Chandrane. Pria tambun dengan jubah khas walikotanya itu diam sejenak. Sementara sang Dirgantetar maju menghadap Olejagn, menyilangkan kedua tangannya di depan dada lalu berlutut dengan sebelah kaki. Tangan kirinya menggenggam sisi belakang obornya, tangan satunya menggenggam sisi sebaliknya. Kepalanya merunduk, lalu ia sodorkan api di obornya pada Olejagn. Zuwr, api biru menyala dari tongkat obor milik Olejagn.

    Deburan ombak terdengar begitu jelas beradu dengan dinding-dinding tebing di bawah sana. “Demi Moncdun, dan Raja Barragnal yang terpilih. Mimbar publik ini dibuka!”Dua kali ketokan ujung tongkat diakhiri dengan mengacungkan tongkat itu menunjuk bulan.

    “Puja-puji Moncun,”Ucap rakyat Lunus serentak, bersamaan dengan gerakan meletakkan tangan menyilang di depan dada mereka.

    “Sudah lama kota kita tidak terganggu oleh para Barbar. Jika para saksi membuktikan kau bersalah, semoga laut Monc menerima jasadmu dan mengangkat ruh mu ke Bulan,”Ucap Olejagn yang diakhir dengan sebuah hentakan tongkat.

    Sang hakim lalu berjalan mendekati pemuda Barbar, lalu meletekkan kitab suci Chandrane melayang di atas kepalanya,“Berdasarkan hukum Republik yang disesuaikan dengan adat Chandrane. Kau diwajibkan memiliki klaim dari salah satu kerajaan pembentuk Republik berupa simbol di tubuhmu. Dan kau tak memilikinya.“

    “Jika kau datang baik-baik dan terlebih dahulu membuktikan kesetiaanmu kepada kerajaan Chandrane. Maka aku, atas nama Raja Barragnal akan memberikan klaim itu bahkan keseluruh kaum mu!”sambung Olejagn.

    “Kau justru melakukan pembunuhan pada seorang Dirgantetar, merusak rumah warga Lunus dan membuat puluhan orang luka-luka.”

    “Uhuk, uhuk...”pemuda barbar ini mengeluarkan batuk darah, tak mampu menyekanya dengan posisi tangan yang terlilit itu.

    “Demi kehormatan seluruh keluargaku! Agror Igneto sang Pendiri, memberikan pengampunan dan kebebasan bagi suku ku di pertempuran terakhir di kota Dumnan! Aku orang merdeka, tapi para Dirgantetar itu yang menyerangku dahulu!”

    Tiba-tiba api pada tongkat walikota menyemburkan kobaran api kecil.

    “DIA BERDUSTA!”teriak para warga penuh emosi.

    “Demi Agror Igneto yang memberikan kaum ku pengampunan. Aku datang ke kota hanya untuk menukarkan peta penjelajahan dan hasil buruan dengan kebutuhan-kebutuhan kaum ku!”
    Tak ada reaksi kali ini dari api pada tongkat walikota. Namun tetap terjadi kericuhan dan ketidakpercayaan warga akan pemuda Barbar ini.

    “CUIH! dan Dirgantetar yang membawaku itu adalah seorang pengkhianat! Dia seorang Druidrider!”

    “DUSTA!”teriak sang Dirgantetar misterius, ia sontak bangkit dari duduknya.
    Ia menyobek kain di kedua lengannya, menunjukkan tidak ada tanda-tanda garis Rune sebagaimana yang dimiliki seorang Druidrider. Warga semakin ricuh, ketukan tongkat walikota memecah konsentrasi warga kembali padanya.

    “Atas nama keadilan, kalian yang menyaksikan langsung apa yang menjadi pembelaan pemuda Barbar ini, acungkan tangan kalian ke langit. Dan yang menyaksikan tindak kejahatan pemuda Barbar ini, bersaksilah demi Moncdun,”ucap Olejagn menenangkan.
    Sang Dirgantetar tersenyum simpul, seluruh warga yang hadir menyilangkan tangannya di depan dada mereka.

    ****


    Olejagn sudah berada di panggung eksekusi. Ia masih memberikan penghormatan pada pemuda Barbar ini, karena bersaksi atas nama Agror Igneto sang Pemersatu. Ia memerintahkan pemuda Barbar ini menjulurkan lidahnya, untuk menjilat api dari tongkat obor kuno Olejagn, api biru yang akan membantunya sampai ke Bulan sana setelah kejahatan yang ia lakukan.

    Pemuda barbar ini lalu diperintahkan berdiri lalu berjalan mundur perlahan dengan todongan kedua pedang prajurit di lehernya. Ia akan menjatuhkan diri ke laut Monc dibawah sana. Semua yang menyaksikan lalu memberikan salam kepada Moncdun, meletakkan kedua tangan mereka menyilang di depan dada.

    Papan terakhir yang pemuda Barbar ini injak berderit. Seketika sebelum ia menghilang dari penglihatan para warga yang menyaksikan. Sebuah teriakan dari belakang kerumunan membuyarkan perhatian warga.

    “MINGGIR! PALADIN! WANITA SUCI HENDAK LEWAT!”Teriakan yang berasal dari seorang paladin berbadan kekar menggelegar di udara malam.

    Diantara brikade yang membelah kerumunan warga, sosok Wanita Suci memberikan pesona luar biasa. Pakaian serba putih dengan cahaya yang berpendar padanya membuatnya bak seorang dewi, senada dengan bulan di malam itu yang berwarna keputih-putihan. Termasuk Olejagn yang juga terperanga.

    Dengan sigap sang Wanita Suci naik ke panggung ekskusi, ia kembangkan kedua tangannya. Sementara paladin yang beriringan dengannya berbaris di bawah panggung.

    “Wahai warga kota Lunus. Aku, Wanita Suci yang terpilih dari kelima kerajaan, Dewi Putih yang dipercaya menjadi pemersatu keyakinan. Demi traktat perjanjian antar raja, eksekusi ini dilarang untuk menghormati tujuh hari sesudah dan sebelum pengangkatan Legator baru, Eldur Igneto.”

    Semua warga terperanga memperhatikan sang Wanita Suci. Memperhatikan pesona putihnya yang membius mereka, melupakan sejenak sang pemuda Barbar yang segera akan meregang nyawa.

    “Kembalilah ke rumah kalian, luangkan waktu dengan keluarga mu. Untuk Eldur Igneto,”sang wanita suci mengangkat sebelah tangannya dengan posisi layaknya memegang sebuah cangkir bir. Salam penghormatan bangsa Tuetan.

    “Untuk Eldur Igneto,”Balas para warga, sebagian dengan mengangkat sebelah tangannya layaknya memegang cangkir bir, sebagian lain melipatkan kedua tangannya di atas dada sebagaimana salam penghormatan bangsa Chandrane.

    Menyaksikan respon warga yang berbeda-beda, sang Dewi Putih lalu meralat salamnya,“Demi Moncdun, sang Bulan Biru dan Raja Barragnal yang terpilih.”

    “Yang Adil, yang Kasih, Puja Puji Moncdun,”jawab para warga serempak sembari melipatkan kedua tangannya di atas dada.

    ****


    Di lautan Monc, sebuah kapal besar berlayar dengan ukiran teratai putih raksasa dibagian depannya. Tungku pembakaran kapal tak terlihat melahap sebatangpun kayu Aeros.

    Dua dari tujuh orang penting Republik berbincang di geladak kapal. Aluffen, penguasa Northurn, orang yang dipercaya memiliki darah Grudar mengalir di tubuhnya. Ia duduk di atas sebuah drum anggur sambil menghisap cerutunya sesekali. Minuman soda khas Chandrane, Pouela milik Aluffen berada di atas drum anggur di sebelahnya. Sementara sang Dewi Putih bersandar di tepian kapal melihat ke arah kota Lunus yang akan mereka tinggalkan.

    “Diana, akan lebih baik jika kau mampu menghasut Chandrane dalam pemberontakan ini. Persenjataan dan disiplin prajurit mereka yang terbaik di antara kita semua.”

    Sang Dewi Putih menatap tajam tanda peringatan pada Aluffen,”Jangan sesekali kau memanggil nama masa laluku di tempat umum.”

    Aluffen berjalan mendekati Diana, lalu berbisik,“Itu sudah menjadi rahasia umum, Diana. Semua orang tahu kau dulunya putri kerajaan Dafinov yang dikorbankan untuk menjadi figur pemersatu.”

    Diana kembali menatap kota Lunus,“Mereka yang mengorbankan ku tak akan pernah menjadi bagian dalam masa depan Republik milik ku. Tuetan, Chandrane dan Acuvila harus lenyap. Sama seperti ayahku.”

    “Milik kita bukan hanya kau. Tuetan dan Chandrane akan menjadi bagian yang paling sulit,”Aluffen menyudahi, ia berbalik berjalan ke arah pemuda Barbar yang tertidur dalam posisi duduk di sisi sebrang kapal.

    CONTINUED TO NEXT PAGE
    Last edited by Zic de Zed; 06-24-2014 at 06:35 PM.

    LET'S HAVE SOME FUN!
    Zic de Zed - CHAMP ts2 sesi 4 & sesi 6
    Please Kindly Read my Mix Original Fiction Story : Draxler - Yang Berdiri Terakhir
    NEW CHAPTER (28 MARET 2014) : CHAPTER 7 : Babak Baru Pergolakan

  2. #72
    Zic de Zed's Avatar
    Join Date
    Feb 2012
    Location
    Medan - Semarang
    Posts
    373

    Default

    LANJUTAN CHAPTER 9 (Posting Awal Mencapai Batasan)

    Aluffen membangunkannya dengan tendangan kasar. Ia mengangkat dagu pemuda Barbar ini, memaksa untuk menatap matanya.

    “Kau ku jadikan budakku, Diana bilang tak ada tanda klaim di tubuhmu. Aku tuanmu, Aluffen, Raja Northurn, Calon dewa pengganti Grudar. Dan siapa kau, darimana kau berasal?”

    “Hei Luffen! Biarkan dia beristirahat!”Teriak Diana yang berjalan ke arah mereka.

    “Ku pikir kau menyelamatkannya bukan untuk bersantai-santai seperti ini,”Jawab Aluffen tak peduli. “Hah, bawahan tolol lagi. Sekarang namamu Morgat. Ingat itu. Kau berada di bawah komandoku.”

    Diana menyentuh pundak Aluffen dengan telapak tangannya,“Ia memang akan berada di bawah komandomu, tapi ia yang akan memimpin para Nighel Dun penunggang Tigrion. Jika kau seenaknya, maka Northurn akan dilenyapkan juga, Aluffen.”

    Sang Barbar menarik nafas panjang. “PENGKHIANAT REPUBLIK! KETURUNAN AGROR IGNETO AKAN MEMBAKAR KALIAN HIDUP-HIDUP!”Cuih, ludah dari pemuda Barbar ini tepat mendarat di wajah Aluffen.

    Mata Aluffen mulai memutih, garis-garis rune spiral muncul di pergelangan tangan hingga ujung jarinya. PLAK, sebuah tepukan Diana di pundak membatalkan amarah Aluffen untuk mengamuk.

    Sang pemuda Barbar menarik kerah leher Aluffen ke arahnya, membentukan kepala mereka berdua. Aluffen terjungkal penuh emosi. Ia bangkit, lalu menerjang wajah pemuda Barbar ini dengan tendangan kaki kanan. Membuatnya tersungkur lalu ia benturkan kepala sang pemuda berulang kali ke lantai kapal.

    “Luffen, cukup ku kira,”ucap Diana.

    Aluffen masih tak terima, tapi ia menyudahinya. Bangkit, lalu memanggil Florent, Dirgantetar misterius yang menyeret pemuda Barbar ini ke mimbar publik. Ia memerintahkannya mengambilkan cangkir Pouelanya.

    Siksaan bagi sang pemuda Barbar tak berhenti sampai disitu. Diana kini yang menendangi rusuknya, menginjak-injak kepala sang pemuda Barbar. Ia lalu mencengkram rambut sang pemuda, memaksanya untuk bangkit.

    “Kau sudah keterlaluan. Jika kau memberontak lagi, bukan hanya kau yang akan ku bunuh, tapi keluarga dan seluruh kaum mu.”

    Morgat tercengang, ia meneteskan air mata. Dengan terpaksa ia membuka mulutnya,”Baik tuan.”

    Diana melepaskan cengkramannya, menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkan helai-helai rambut Morgat yang menempel.

    “Baiklah, masalah selesai Aluffen. Kita sudah diujung laut Monc sebelum terjun bebas di langit lepas. Terbangkan kapal menuju Deyndral.”

    “Aku akan berhibernasi ketika sampai Deyndral.”Aluffen menghabiskan Pouela di cangkirnya, lalu melemparkan cangkir kayu itu kepala Morgat hingga hancur berantakan.”

    Aluffen memulai teknik Runenya. Pusaran angin bergulung menuju masing-masing tangannya, gulungan angin itu semakin lama semakin panjang. Bahkan air laut Monc di sisi kiri dan kanan kapal menjadi tak karuan karenanya. Sementara itu kapal terus melaju menuju ke langit lepas, dan akhirnya melompat bebas ke udara.

    Florent membuka layar penahan kapal untuk melayang. Raja Northurn ini langsung mengarahkan pusaran angin di tangan kirinya ke arah layar penahan, membuat kapal langsung melesat cepat ke atas. Sementara tangan kanannya terus mengumpulkan gulungan angin yang semakin dan makin panjang.

    “Deyndral akan kita capai kurang dari semalam, tepat di pagi hari. Jika kalian ingin beristirahat, beristirahatlah sekarang. Hari-hari ke depan akan menjadi hari yang besar bagi kita. Tidurlah”

    END OF CHAPTER !


    --------------------------------------------
    FOOTNOTE :

    Terimakasih telah membaca dan terus menunggu rilis chapternya. Semoga memuaskan temen2 yang mau tahu kelanjutannya. Mohon maaf, rilis tidak akan bisa dilakukan rutin lagi, tapi sebisanya akan terus posting setiap bulannya.

    Salam
    Donnie - Zic de Zed


    IMPORTANT INFO

    Tinggal satu chapter lagi sebelum masuk ke bab selanjutnya. Bab selanjutnya akan lebih epik dari Bab I yang berjudul "Cangkang yang Retak" ini. *MariBersamaKitaDoakan*
    Last edited by Zic de Zed; 06-24-2014 at 07:04 PM.

    LET'S HAVE SOME FUN!
    Zic de Zed - CHAMP ts2 sesi 4 & sesi 6
    Please Kindly Read my Mix Original Fiction Story : Draxler - Yang Berdiri Terakhir
    NEW CHAPTER (28 MARET 2014) : CHAPTER 7 : Babak Baru Pergolakan

  3. #73
    Battle Of The King - IDX14 tari_chan's Avatar
    Join Date
    May 2014
    Location
    Makassar
    Posts
    643

    Default

    ahh donny,, keren ceritanya,,

    11 12 deh bagusnya sama cerita fantasi yang pernah ku baca,, di tunggu kalau ada lanjutannya okey,,

    by anggotamu dulu di F1M

    Mataram | F1M | Giants | Tyrant | EMBER | MOM | SWR MB | LOCK | Raven KPS | FW | U | SWAG | GG

  4. #74
    Zic de Zed's Avatar
    Join Date
    Feb 2012
    Location
    Medan - Semarang
    Posts
    373

    Default

    Quote Originally Posted by tari_chan View Post
    ahh donny,, keren ceritanya,,

    11 12 deh bagusnya sama cerita fantasi yang pernah ku baca,, di tunggu kalau ada lanjutannya okey,,

    by anggotamu dulu di F1M
    Terimakasih telah membaca. chapter lanjutnya sedang dalam proses.
    saya jg akan balik lg ke F1M SW nnt pertengahan juli, sebagai dual salah satu ID di SW.

    LET'S HAVE SOME FUN!
    Zic de Zed - CHAMP ts2 sesi 4 & sesi 6
    Please Kindly Read my Mix Original Fiction Story : Draxler - Yang Berdiri Terakhir
    NEW CHAPTER (28 MARET 2014) : CHAPTER 7 : Babak Baru Pergolakan

Page 8 of 8 FirstFirst ... 678

Tags for this Thread

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •