Page 2 of 2 FirstFirst 12
Results 11 to 12 of 12

Thread: Romawi Kuno/Sejarah/Keruntuhan Romawi

  1. #11
    White Tiger's Avatar
    Join Date
    Nov 2014
    Location
    a[L]s Wildwood
    Posts
    1,863

    Default Kartago (Carthage)

    TUNISIA adalah sebuah cerita lama. Dahulu kala, di zaman sebelum Masehi, negeri ini sudah menjadi bahan omongan. Catatan-catatan sejarah dunia mengungkapkan, orang-orang Phoenisia pada abad ke-8 SM masuk ke wilayah itu. Mereka mendirikan kota Kartago (Carthage) dan permukiman-permukiman lain di Afrika Utara.

    Kartago tumbuh dan berkembang menjadi kota besar yang menguasai wilayah Laut Tengah, sampai akhirnya dikalahkan oleh orang-orang Romawi pada tahun 146 SM. Kekaisaran Romawi menguasai Kartago dan juga Afrika Utara sampai abad ke-5 hingga akhirnya suku-suku Eropa mengalahkan Romawi.

    Pada abad ke-7 pasukan Muslim masuk Tunisia, disusul gelombang imigrasi dari Arab, orang-orang Moor Spanyol, dan Yahudi. Gelombang imigrasi itu terus berlangsung hingga abad ke-15. Di zaman Kekalifahan Utsmaniyah (Ottaman) Turki, Tunisia menjadi pusat belajar dan budaya Arab.

    Tunisia juga pernah menjadi protektorat Perancis, yakni mulai tahun 1881 hingga merdeka tahun 1956 dan menjadi Republik Tunisia (1957), dengan presiden pertama Habib Bourguiba—pemimpin gerakan kemerdekaan.

    Bourguiba sangat menekankan pada pembangunan ekonomi dan sosial, terutama pendidikan, status perempuan, dan penciptaan lapangan pekerjaan. Program itu berhasil menciptakan stabilitas politik dan sosial. Tetapi, pertumbuhan demokrasi sangat lamban. Bourguiba pun menjadi tokoh yang tak tertandingi. Ia beberapa kali dipilih sebagai presiden dan pada tahun 1975 dinyatakan sebagai ”presiden seumur hidup”.

    Pada titik inilah apa yang pernah dikemukakan Machiavelli dalam Sang Penguasa dipraktikkan Bourguiba. Menurut Machiavelli, tujuan politik adalah memperoleh dan memperbesar kekuasaan politik. Ukuran berhasil yang dipakai adalah semakin kuat dan semakin besarnya kekuasaan. Kebijakan yang sewenang-wenang menurut ukuran moral, mengingkari janji atau kepercayaan, dan perbuatan yang tak berlandaskan hukum dianggap sesuatu yang tak perlu diperhatikan (St Sularto, Niccolo Machiavelli, Penguasa Arsitek Masyarakat).

    Ketika kekuasaan tidak lagi memberikan kesejahteraan rakyat, tetapi demi kekuasaan itu sendiri, saat itulah bencana dimulai. Pada tahun 1983, ketika Bourguiba merayakan 25 tahun kekuasaannya, pecah pemogokan sipil dan kaum religius karena memburuknya perekonomian dan naiknya harga bahan-bahan kebutuhan pokok. Tahun berikutnya pecah kerusuhan di jalanan yang menelan 80 korban jiwa. Bourguiba malah memperkuat kekuasaan dengan menunjuk orang-orangnya untuk duduk di Komite Sentral dan Politbiro yang seharusnya dipilih. Salah satu anggotanya adalah Zine al-Abidine Ben Ali, yang pada tahun 1987 justru menyingkirkannya karena menganggap Bourguiba sakit dan tak mampu memerintah lagi.

    Tetapi, hal yang sama dilakukan juga oleh Ben Ali setelah berkuasa selama 20 tahun. Ben Ali, yang jenderal tentara, menumpuk kekuasaan dan kekayaan, terutama dilakukan istrinya yang kemaruk kekuasaan dan harta. Meski di zaman Ben Ali untuk pertama kali dilakukan pemilu legislatif yang pluralistik dan pemilu presiden multipartai, rakyat tidak bisa dibohongi oleh hal-hal yang bersifat lipstik, sementara banyak orang menganggur dan harga pangan melambung.

    Akhirnya, rakyat memilih menyingkirkan penguasa yang hanya memikirkan dirinya sendiri, keluarga, dan orang-orang dekatnya. Hari Jumat malam, Presiden kabur. Sami Moubayed di Asia Times menulis penggulingan Ben Ali merupakan salah satu peristiwa yang sangat dramatik dalam sejarah Arab. Ia disingkirkan orang-orang muda dan tua, kaum terpelajar dan rakyat biasa, serta kaum ulama. Di belakang mereka ada tentara yang mau mendengarkan teriakan dan penderitaan rakyat.

    Editor : Egidius Patnistik
    Sumber :http://internasional.kompas.com/read...Negeri.Tunisia
    Last edited by White Tiger; 03-19-2016 at 07:39 AM.
    One Empire,One Spirit,Three Stars,Three Victories !!!!

    Some People dreaming for hunting me,The Untouchables,Guardian of West Kingdom
    The Mighty Roar BYAKKO

  2. #12
    White Tiger's Avatar
    Join Date
    Nov 2014
    Location
    a[L]s Wildwood
    Posts
    1,863

    Default Perang Punisia

    Pada tahun 264 SM, Kartago adalah kota pelabuhan besar yang terletak di pantai Tunisia modern. Didirikan oleh bangsa Fenisia pada pertengahan abad ke-9 SM, Kartago merupakan negara-kota yang kuat. Di Mediterania Barat, hanya Republik Romawi yang dapat menyaingi kekuasaan, kekayaan dan populasi Kartago. Sementara angkatan laut Kartago merupakan yang terbesar di dunia kuno pada saat itu, Kartago tidak memiliki angkatan bersenjata yang besar dan permanen, namun bergantung pada tentara bayaran, menyewanya untuk peperangan. Namun, kebanyakan perwira yang mengkomandokan tentara adalah penduduk Kartago. Kartago terkenal akan kemampuan mereka sebagai pelaut, dan tidak seperti angkatan bersenjata mereka, banyak bangsa Kartago dari kelas bawah bekerja di angkatan laut, yang menyediakan karier dan pendapatan yang cukup.

    Pada tahun 264 SM, Republik Romawi telah menguasai semenanjung Italia di sebelah selatan sungai Po. Tidak seperti Kartago, Romawi memiliki angkatan bersenjata besar yang sebagian besar terdiri dari penduduk Romawi. Penduduk kelas bawah atau plebeius biasanya menjadi serdadu di legiun Romawi, sementara penduduk kelas atas atau patricius menjadi perwira. Di sisi lain, pada awal Perang Punisia Pertama, Republik Romawi tidak memiliki angkatan laut dan menjadi kelemahan mereka, hingga mereka mulai membentuk angkatan laut mereka sendiri selama perang.


    Perang Punisia Pertama
    Perang Punisia Pertama (264 sampai 241 SM) adalah perang pertama dari tiga perang besar yang terjadi antara Kartago kuno melawan Republik Romawi. Selama 23 tahun, kedua kekuatan tersebut bersaing demi supremasi di Laut Mediterania bagian barat, khususnya di pulau Sisilia dan laut di sekitarnya, namun mencakup juga semenanjung Apennine dan Afrika Utara. Pada masa-masa awal konflik, Kartago, yang terletak di Tunisia modern, merupakan kekuatan dominan di Mediterania Barat. Namun Republik Romawi pada akhirnya berhasil memenangkan perang ini. Akibatnya Romawi bisa memaksa Kartago menyepakati suatu perjanjian sangat memberatkan pihak Kartago, khususnya dalam bidang militer dan ekonomi.

    Pada Perang Punisia Pertama, pertempuran bukan hanya terjadi di daratan (Sisilia dan Afrika), namun juga di laut Mediterania. Beberapa perang laut yang besar juga terjadi. Perang ini berlangsung dengan sengit hingga akhirnya Republik Romawi menang dan menaklukan Sisilia setelah mengalahkan Kartago dalam Pertempuran Kepulauan Aegates yang mengakhiri perang ini. Akibat kekalahannya, selain harus menandatangani perjanjian yang merugikan dengan Romawi, Kartago juga mengalami guncangan politik maupun militer, sehingga Romawi akhirnya dengan mudah merebut Sardinia dan Korsika dari Kartago, ketika Kartago terjerumus ke dalam perang tentara bayaran.

    Perang Punisia Kedua
    Perang Punisia Kedua (disebut sebagai Perang Melawan Hannibal oleh Romawi) terjadi antara tahun 218 hingga 201 SM dan melibatkan negara di Mediterania Barat dan Timur. Perang ini merupakan perang kedua dari tiga perang utama antara Kartago dan Romawi.

    Pada Perang Punisia Kedua (218 SM - 202 SM), pasukan Kartago yang dipimpin oleh Hannibal menyeberangi Laut Mediterania, menyusuri Semenanjung Iberia-dimana dia berhasil menaklukkannya untuk meluaskan kekuasaan Kartago di Iberia. Kemudian, Hannibal melewati daerah Galia, dimana dia berhasil mendapatkan banyak pasukan bayaran. Hannibal dan pasukannya lalu bergerak menuju Pegunungan Alpen untuk menyerang Roma dari utara, sebagai upaya untuk menghindari hadangan Republik Romawi jika melewati daerah pesisir. Hannibal berhasil memenangkan sejumlah pertempuran dahsyat di daratan Italia, seperti Pertempuran Trebia, Pertempuran Danau Trasimene dan Pertempuran Cannae. Tiga pertempuran ini menjadi kejeniusan Hannibal dalam menghadapi pasukan Romawi yang jumlanya lebih banyak. Meski Hannibal berhasil mengalahkan Romawi di daratan Italia, serta beberapa aliansi Republik Romawi terutama daerah Italia bagian selatan menjadi berpihak kepada Hannibal, tetapi itu tidak cukup untuk menaklukkan Roma, selain pasukan Hannibal dirasakan kurang cukup untuk menaklukkan Roma, juga karena Republik Romawi masih didukung oleh sebagian besar aliansi-aliansinya.

    Republik Romawi yang berhasil bangkit, balik menyerang daerah yang dikuasai Kerajaan Kartago, yaitu Hispania dan Sisila. Republik Romawi juga mulai menyerang daerah Yunani-aliansi Kerajaan Kartago. Penyerbuan ke Hispania dipimpin oleh Scipio Africanus. Scipio berhasil menaklukan Hispania untuk Republik Romawi setelah melalui banyak perang, diantaranya Pertempuran Ilipa. Setelah Hispania, Romawi mulai menuju benua Afrika. Hannibal yang masih di Italia ditarik kembali oleh Kerajaan Kartago untuk melindungi dari serangan Romawi. Pasukan Romawi yang dipimpin oleh Scipio, dengan bantuan dari Numidia yang dipimpin oleh Masinissa dan pasukan Kartago yang dipimpin oleh Hannibal akhirnya berperang dalam sebuah pertempuran di Zama. Pasukan Kartago mengalami kekalahan telak dalam pertempuran ini. Kekaisaran Kartago kembali harus menandatangani perjanjian yang kali ini membuat Kerajaan Kartago menjadi benar-benar melemah. Hal ini dibuktikan dengan menghilangnya wilayah kekuasaan Kartago, sehingga hanya menyisakan kota Kartago. Isi perjanjian yang lain adalah tidak boleh melakukan peperangan dengan siapa saja dengan alasan apapun dan harus membayar upeti ke Republik Romawi sampai 50 tahun mendatang.

    Perang Punisia Ketiga

    Perang Punisia Ketiga' (Bahasa Latin: Tertium Bellum Punicum) (149 SM sampai 146 SM) adalah perang yang ketiga dan terakhir dari Punisia yang terjadi antara mantan Phoenisia, koloni Kartago dan Republik Romawi. Perang Punisia disebut begitu karena sesuai dalam bahasa Romawi untuk Orang Kartago yakni Punici, atau Poenici.

    Perang ini mempunyai keterlibatan yang jauh lebih kecil daripada dua Perang Punisia sebelumnya dan difokuskan terutama pada Pertempuran Kartago (149 SM), yang mengakibatkan kehancuran total pada kota, aneksasi semua sisa wilayah Kartago oleh Roma, dan kematian atau perbudakan penduduk Kartago secara keseluruhan. Perang Punisia Ketiga mengakhiri eksistensi independen Kartago.

    Pada Perang Punisia Ketiga diwarnai dengan penyerangan Kekaisaran Roma langsung ke jantung Kekaisaran Kartago, Kota Kartago, pada tahun 149 SM - 146 SM. Dilatar belakangi oleh seringnya bangsa Numidia melakukan penjarahan di daerah Kartago, Kartago mulai melawan, yang berarti adalah perang. Republik Romawi yang mengetahui Kartago melanggar janji, memutuskan untuk menyerang Kartago. Selama hampir tiga tahun, Republik Romawi menghadapi perlawanan hebat dari Kartago. Namun, Republik Romawi pada akhirnya menang berhasil menghancurkan Kota Kartago, sekaligus menandai runtuhnya Kekaisaran Kartago. Para penduduk kota Kartago, hampir semuanya dijual sebagai budak.

    Pada selang waktu antara akhir Perang Punisia Kedua dengan awal Punisia Ketiga, Republik Romawi berusaha memperluas wilayah menuju daerah peradaban Helenistik, yaitu dengan Kerajaan Seleukus, Makedonia, serta wilayah Illyria.

    Sumber : http://www.kaskus.co.id/show_post/53...295d8b479d/3/-

    all tolong post nya sama sharing ya...boleh komen tapi ada sharing,biar nga ketutup ama post
    To Moderator please remove post without sharing
    Last edited by White Tiger; 03-19-2016 at 07:56 AM.
    One Empire,One Spirit,Three Stars,Three Victories !!!!

    Some People dreaming for hunting me,The Untouchables,Guardian of West Kingdom
    The Mighty Roar BYAKKO

Page 2 of 2 FirstFirst 12

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •